SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Direktur Utama PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Deddy Affidick, Â optimis mampu membangun kilang minyak mini apabila mendapatkan jatah minyak mentah.
“Untuk pemasaran produk seperti solar, kami rencananya akan menjualnya ke Pertamina,” ujar Deddy kepada Suarabanyuurip.com beberapa waktu lalu.
Keinginan BBS tersebut memantik reaksi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bojonegoro Institute (BI). Menurut Direktur Utama BI, Awe Saiful Huda, untuk memiliki sebuah kilang minyak mini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Selain membutuhkan proses yang panjang, PT BBS dan Pemkab Bojonegoro harus memikirkan bagaimana memasarkan produk  olahan, dan menciptakan peluang kerja bagi masyarakat.
“Kalau cuma dijual ke Pertamina malah patut dipertanyakan,” kata Awe kepada Suarabanyuurip.com saat ditemui dikantornya, Selasa (24/11/2015).
Dia katakan, Pertamina tidak perlu membeli solar ke BUMD karena mereka bisa mengolahnya sendiri. Bahkan, akan lebih cepat jika minyak mentah dari Participating Interest (PI) Blok Cepu dijual ke Pertamina tanpa melalui makelar.
“Apalagi dengan alasan Indonesia tidak perlu mengimport bahan bakar jika ada kilang minyak di Bojonegoro. Karena, alasan pemerintah impor  itu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selama ini antara produksi dan konsumsi itu tidak seimbang,” tandasnya.
Menurutnya, PT BBS jangan terlalu muluk dalam merencanakan sebuah proyek besar. Mengingat masih ada satu pekerjaan yang hingga saat ini belum juga terselesaikan. Yakni, pembangunan fasilitas gas flare dari Lapangan Sukowati, Blok Tuban, di Dusun Plosolanang, Kecamatan Bojonegoro.
“Dulu ketika Bojonegoro berhasil mendapatkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG), PT BBS dan mitranya malah gagal membangun fasilitas gas flare,” tukasnya.
Gagalnya proyek gas flare tersebut membuat BBSÂ merasa malu sendiri. Sudah menghambur-hamburkan uang, tapi belum memberikan kontribusi ke daerah. Â Â
“Jangan-jangan proyek kilang minyak juga seperti itu. Hanya buang-buang duit saja tanpa ada hasil,” tandas pria asal Kecamatan Trucuk ini.
Pihaknya berharap, PT BBS fokus terhadap salah satu pekerjaannya. Seperti pembangunan gas flare ini, baru setelah berjalan lancar, menciptakan peluang pekerjaan. Terlebih menghasilkan pendapatan daerah bisa melanjutkan rencana-rencana lainnya.
“Masyarakat awam itu kalau melihat semua rencana PT BBS itu merupakan hal yang luar biasa, tapi secara praktek ya nol,” pungkasnya. (rien)