SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Eksploitasi Lapangang Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang dioperatori ExxoMobil Cepu Limited (EMCL) selama ini dipaksakan untuk “seakan-akan” siap.
Sesuai catatan Bojonegoro Institute (BI), ada sejumlah fakta pendukung jika produksi Banyuurip dipaksakan.  Di antaranya, pengeboran dan produksi dimulai tahun 2008, tapi untuk fasilitas pendukung, misalnya proyek  EPC baru mulai dibangun pada tahun 2011. Pembangunan EPC 1 yang dijadwalkan selesai dalam 2,5 tahun ini ternyata juga molor.
“Dari semestinya pertengahan 2014 sudah selesai, tapi sampai sekarang belum rampung-rampung,” kata Direktur Utama BI, Awe Saiful Huda kepada suarabanyuurip.com, Senin (23/11/2015).
Fakta lainnya, pada tahun 2011, pengiriman crude oil (minyak mentah) dari Lapangan Banyuurip juga masih diangkut dengan truk tanki dibawa ke Central Processing Area (CPA) Mudi di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, karena belum siapnya pipa. Dari lokasi itu, minyak mentah baru dialirkan menggunakan pipa milik Pertamina ke lepas pantai Palang.
“Baru tahun 2012 kontraktor membangun pipa sendiri dari lapangan Banyuurip ke Sukowati,” ujar Awe, mengungkapkan.
Dari sederet fakta itulah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal Bojonegoro yang konsen masalah migas ini pesimis jika puncak produksi Blok Cepu akan tercapai tahun ini. Karena selain belum siapnya fasilitas produksi, juga ada masalah pembebasan tanah, pembangunan fly over (jembatan layang) juga tidak selesai sebagaimana rencana yang sudah dibuat.
“Dari sini, sudah menunjukkan kesiapan pendukung berlangsungnya produksi puncak meragukan,†tandasnya.
“Jangan-jangan nanti juga muncul alasan alat-alatnya saat ini juga belum siap? Perlu uji coba dulu, kan?” sindir Awe.(rien)