SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Nelayan di wilayah pantura Lamongan, Jawa Timur mengeluhkan anjloknya harga ikan di saat musim “panen raya”. Padahal selama bulan November ini mereka cukup diuntungkan dengan cuaca laut yang bersahabat, sehingga hasil tangkapan selalu melimpah.
“Hasil tangkapan ikan melimpah cuma sayang harganya terus anjlok,” ujar nelayan asal Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Slamet kepada suarabanyuurip.com, Selasa (24/11/2015).
Dari pantauan di sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kecamatan Brondong, dan Paciran, harga komoditi laut itu turun antara 30-50 persen. Beberapa jenis ikan yang selama ini menjadi primadona di antaranya adalah tongkol yang sebelumnya seharga Rp 25 ribu/kg turun menjadi Rp.20 ribu. Kemudian udang dari Rp 60 ribu turun hingga Rp45 ribu/Kg dan cumi- cumi dari harga Rp 50 ribu menjadi Rp40 ribu.
Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Samiaji mengatakan, jatuhnya harga ini terjadi saat pasokan melimpah. Kondisi ini menjadi nasib nelayan tak beruntung.
“Selama ini memang belum ada patokan pasti dari pemerintah tentang harga ikan seperti komoditi pangan lainnya sehingga nasib nelayan seolah ditentukan para tengkulak yang membeli tangkapan nelayan,” sambung Samiaji, menjelaskan.
Nelayan sebenarnya sudah mulai bisa menarik nafas lega dengan turunnya harga solar Rp200 perliter beberapa bulan lalu. Meski penurunan itu nilainya kecil, namun jika dikalikan dengan kosumsi solar yang mencapai puluhan liter perperahu setiap harinya cukup meringankan beban operasional mereka.
“Harga solar turun, harga ikan juga ikut jeblok. Harga solar naik harga ikan sulit terkatrol naik. Ini dilematis nasib nelayan,” ujar Samiaji. (tok)