SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Demi bisa melaut para nelayan di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur terpaksa membeli solar dengan selisih harga Rp600 perliter.
Jika harga solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Rp6700 perliter, solar yang dibeli nelayan dari para agen Rp7300 perliter. Para agen ini khusus berjualan solar untuk memenuhi kebutuhan solar nelayan saat melaut.
“Para nelayan terpaksa harus membeli solar dari agen karena sering kesulitan membeli solar di SPBU,” kata salah satu nelayan Dullah kepada SuaraBanyuurip.com.
Sulitnya nelayan membeli solar di SPBU itulah dijadikan ladang usaha baru pemilik modal besar menjadi agen solar. Para agen mendatangkan solar ratusan liter dari SPBU dan menjual ke nelayan dengan pautan harga Rp600 perliter. Akibatnya, membuat para nelayan menjerit, karena harga solar dari agen naik selangit.
Di Desa Labuhan sendiri terdapat 4 agen solar. Mereka melayani puluhan perahu kecil dan belasan perahu besar yang setiap hari digunakan melaut nelayan.
Menurut nelayan lainnya, Mukram, untuk perahu kecil setiap hari membutuhkan solar 30 liter perhari sedang perahu besar sekitar 100 liter. Jika sekali berlayar membutuhkan solar 30 liter dan selisih harga Rp600 perliter, nelayan harus mengeluarkan ongkos ektra Rp18.000. Padahal penghasilan para nelayan tidak menentu.
“Nelayan terpaksa harus. mengeluarkan ongkos ektra karena mahalnya harga solar diagen,” keluhnya.
Kades Labuhan, Afnan Afendi, mengaku, cukup prihatin dengan kondisi nelayan di desanya. Dirinya sudah mencari solusi dengan mengajukan pendirian SPDN di desanya ke Dinas Perikanan dan Kelautan Lamongan.
“Sudah sejak dua tahun lalu kami mengajukan pendirian SPDN di Desa Labuhan, namun hingga saat ini belum ada perhatian, ” ujar Afnan. (tok)