SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Start up atau persiapan untuk mulai menjalankan fasilitas pusat pengolahan (central processing facility/CPF) Banyuurip hingga mencapai produksi puncak sebanyak 200 ribu barel per hari (BPH) diperkirakan membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan.
“Produksi akan meningkat secara bertahap hingga pada puncaknya, setelah itu semua akan normal kembali,†kata Juru Bicara dan Humas EMCL, Rexy Mawardijaya saat memberikan sambutan didiskusi Jaringan Informasi Masyarakat (JIM) di Kelurahan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (26/11/2015).
Tahap pertama dalam kegiatan startup ini adalah menghentikan produksi dari tapak sumur (Well Pad) B. Pada tahap ini flare sementara dari tapak sumur B berhenti dalam kurun waktu kurang lebih dua pekan.
Penghentian flare akan diikuti dengan penurunan produksi karena sumur pad B akan ditutup sementara. Dari produksi sebelumnya sebanyak 80 ribu BPH, akan turun menjadi 40 ribu BPH.
Karena pada proses ini hanya sumur A dan C yang akan dioperasikan. Sementara ini produksi dari sumur A sebanyak 30 BPH, dan sumur C 10 ribu BPH.
“Dari tiga flare yang sebelumnya menyala, mulai Rabu pukul 12 malam tinggal dua yang menyala. Yakni di tapak sumur A dan C,†kata Rexy, mengungkapkan. Â
Sedangkan pada tahap kedua, setelah periode dua minggu tersebut minyak akan mulai diproses di CPF Banyuurip, dan produksi akan meningkat menjadi 130 ribu BPH. Pada tahap ini, seiring dengan usaha menstabilkan produksi, flare sementara akan mati-nyala.
“Ini merupakan hal yang wajar, dan kita sudah menyampaikan tahapan ini kepada stakeholder. Jadi masyarakat tidak perlu panik dengan padamnya flare di tapak sumur B,†pesan Rexy.
EMCL mengapresiasi semua dukungan yang telah diberikan untuk memastikan proses start up ini terlaksana dengan aman dan efisien.Â
“Kegiatan yang kita lakukan sekarang ini merupakan proses menuju puncak produksi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional,†pungkas Rexy.(roz)