Rumuskan Strategi Hadapi Krisis Harga Minyak

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Jakarta – Terus menurunya harga minyak dunia hingga di bawah US$ 30 per barel disikapi serius Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Otoritas migas tanah air itu merumuskan sejumlah strategi untuk menghadapi krisis harga minyak dunia.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, mengatakan, penurunan harga minyak berakibat pada penurunan belanja untuk investasi di sektor hulu migas yang diikuti dengan penurunan biaya.

“Secara global, penurunan biaya eksplorasi dan produksi sebesar kira-kira 20,3 persen. Ini penurunan yang sangat signifikan,” ujarnya melalui release yang dikirimkan kepada suarabanyuurip.com, Rabu (13/1/2016).

Rendahnya harga minyak ini tentunya memiliki dampak tidak baik untuk jangka pendek, yaitu penurunan penerimaan negara, maupun dampak jangka panjang yakni kelanjutan kegiatan pencarian cadangan migas baru di Indonesia.

Untuk meminimalisasi dampak ini, SKK Migas telah melakukan sejumlah strategi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan melakukan efisiensi pengeluaran kapital (capital expenditure) dan pengeluaran operasional (operational expenditure), optimasi kegiatan pengeboran, serta peningkatan kegiatan kerja ulang dan perawatan sumur.

Baca Juga :   Limbah Pemboran TBR Cemari Sawah Warga

Selain itu, industri hulu migas juga melakukan negosiasi harga dengan penyedia barang dan jasa serta mengevaluasi ulang proyek-proyek yang keekonomiannya terpengaruh harga minyak.

“Kalau saat harga minyak turun lalu ada proyek yang keekonomiannya tidak masuk, harus kita tinjau lagi,” ujar Amien.

Meskipun ada sejumlah langkah efisiensi tersebut, SKK Migas tetap akan mempertahankan kegiatan-kegiatan eksplorasi dalam bentuk studi, survey, dan pengeboran. Saat harga minyak turun seperti saat ini, harga-harga jasa pendukung kegiatan eksplorasi juga turun drastis.

“Sebagian dari investor berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk melakukan eksplorasi,” ujar Amien.

Hal lain yang perlu diperhatikan menurut Amien adalah menciptakan iklim investasi supaya tetap kondusif di tengah harga migas yang tidak menggembirakan.

“Kami memberikan masukan kepada pemerintah mengenai kebijakan fiscal agar menarik bagi investor,” ujar Amien.

Dia menambahkan bahwa di tengah krisis harga migas saat ini, keberpihakan terhadap industri nasional tetap dijaga.

“SKK Migas membuat kebijakan yang memperhatikan kapasitas nasional. Dalam keadaan harga seperti ini, tentunya keberpihakan kepada kapasitas nasional sangat diperlukan,” pungkas Amien.(rien)

Baca Juga :   Produksi KSO PEP-GCI Ditarget 3.200 Bph

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *