SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Â Rencana PT Tri Wahana Universal (TWU) menutup kilang mininya di Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur pada 20 Januari mendatang, disikapi perusahaan lokal yang terlibat di jasa transporter (pengangkutan).
Salah satu perusahaan transporter TWU, Arta Surya Jaya (ASJ) menilai persoalan yang dihadapi TWU sekarang ini tidak lepas dari upaya campur tangan politi di tataran elit. “Penilaian saya pribadi, ada muatan politik kelas tinggi yang melibatkan Pertamina,”ujar Direktur PT.Artha Surya Jaya, Suryono kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (16/1/2016).
Politik kelas tinggi yang dimaksudkan adalah adanya indikasi permainan harga minyak mentah dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu. Hanya saja, Suryono tidak mengetahui persis berapa harga minyak yang dipatok dari lapangan yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), kepada PT.TWU.
“Ini masalah permainan harga,” tudingnya.
Suryono mengungkapkan, sebelumnya kontrak bisnis di kilang mini melibatkan antara ExxonMobil dengan PT.TWU. Namun kontrak tersebut sudah selesai dan digantikan dengan Pertamina. Menurut dia, aturan yang mengharuskan PT.TWU mengambil minyak dari alir muat (Floating Storage and offloading/FSO) Gagak Rimang tidak masuk akal. Sebab, PT.TWU sudah memiliki jalur pipa sendiri.
“Ibaratnya kita disuruh beli air harus di Tuban dengan harga yang jauh lebih mahal. Padahal disini sudah ada,” tuturnya.
Mengenai langkah apa yang akan dilakukan pihak pengusaha transporter, Suryono mengaku masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Namun, untuk saat ini perusahaanya telah mengurangi pengiriman solar hasil olahan dari TWU.Â
“Untuk yang kebutuhan solar industri kita hentikan dulu. Jumlah permintaanya terlalu banyak. Bisa mencapai 1200 Kiloliter,”pungkasnya.(roz)