SuaraBanyuurip.com – G. Citrapati
Program pelatihan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat hasilnya sudah dapat dirasakan.
“Dari target 12 ribu peserta yang dilatih 60 persen sudah bekerja,” ungkap Sugi Hartono, Kasi Perluasan dan Produktifitas Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bojonegoro, Selasa (19/01/2016).
Dijelaskan,  dari  12 ribu peserta pelatihan terealisasi  sebanyak 11.635 peserta dan semua  dibiayai dengan APBD Kabupaten Bojonegoro.
“Dengan rincian 370 peserta bersumber dari CSR, 240 dari pembiayaan APBN dan 976 peserta bersumber dari UPT BLK yang dikelola oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur,” katanya.
Sugi menambahkan, hingga tahun 2015 ini pelatihan yang telah digelar di Kabupaten Bojonegoro tercapai 13.221 pelatihan. Dari 23 jenis pelatihan yang diselenggarakan 11 diantaranya adalah jenis kompetensi yang mendapatkan sertifikat atau pengukuhan antara lain Cleaning Service, Las Listrik, produk hasil pertanian, Tata Boga, Servis AC. Operator Komputer, Garmen, Perhotelan, tata Rias dan Tukang serta pelatihan mesin produksi.
“Sedangkan sisanya adalah pelatihan non kompetensi yang diikuti oleh seluruh warga Bojonegoro lulusan SMA sederajat sampai dengan usia 55 tahun,” imbuhnya.
Yang membahagiakan, lanjut Sugi, dari 11 jenis pelatihan yang memiliki kompetensi ini hampir 60 persen ternyata sudah bekerja. Kebanyakan adalah mereka bekerja di luar Bojonegoro. Yang tebaru saja ada 100 orang lulusan pelatihan garmen kini bekerja di pabrik sepatu di Desa Bakung, DisKecamatan Kanor.
Masih menurut Sugi, untuk tahun 2016 ini pemerintah kembali menggelar pelatihan kurang lebih 6000 peserta.
“Dengan adanya pelatihan ini maka diharapkan usia produktif di Kabupaten Bojonegoro bisa bekerja sesuai skill dan kemampuan mereka. Pemerintah dalam upaya meningkatan kompetensi ini dengan menyiapkan pelatihan-pelatihan baik yang sudah bersertifikasi ataukah non sertifikasi,” jelasnya.
Dia berharap peserta pelatihan  tak hanya bekerja akan tetapi para peserta juga mampu menciptakan peluang kerja bersama. Diakui bahwa untuk pelatihan dengan kompetensi ini pesertanya lebih sedikit jika dibanding non sertifikasi. (Citra)