Dari Maintenance Rambah Jasa Transporter

SuaraBanyuurip.comAthok Moch Nur Rozaqy

PT. ASJ berkembang pesat. Dalam hitungan tahun, perusahaan lokal ini telah memiliki omset satu milyar per bulan dengan jumlah pekerja 235 orang.

Delapan tahun kilang mini di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah beroperasi. Banyak peluang usaha yang ditangkap warga sekitar dari perusahaan milik PT Tri Wahana Universal (TWU) tersebut. Mulai usaha berskala kecil hingga besar.   

Usaha itu terus berkembang seiring meningkatnya aktifitas di kilang mini. Salah satunya adalah jasa transporter hasil pengolahan minyak. Usaha jasa pengangkutan yang dikelola pengusaha lokal sekitar kilang mini itu mengalami kemajuan pesat. 

Di antara perusahaan jasa transporter yang termasuk dibilang sukses adalah PT. Artha Surya Jaya (ASJ). Perusahaan ini lebih awal mendapat kepercayaan dari PT. TWU untuk terlibat dibisnis hilir migas. 

Untuk mengawali dan dapat berkecimpung di usaha hilir migas ini bukan perkara mudah. Di perlukan persayaratan dan pengalaman. Karena itu, pada pertama kali, ASJ tidak serta merta langsung terlibat di jasa transporter. Melainkan  di bidang maintenance (perawatan) armada yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Selama setahun bergerak di bidang perawatan armada yakni medio 2007 – 2008, menjadikan perusahaan lokal yang didirikan pada 2009 silam itu memiliki pengalaman dan semangat untuk maju. Terlebih TWU memiliki komitmen untuk mendorong perusahaan lokal berkembang.  Akhirnya, pada tahun 2009, ASJ mulai ikut bekerjasama dengan PT TWU bergerak jasa transporter.

Baca Juga :   Kerjakan Drill Steam Test-2 Sumur Tapen

“Awal kita ikut memiliki 11 armada,” ucap Direktur PT.ASJ, Suryono membuka perbincangan dengan Suara Banyuurip, pekan ketiga Januari.

Kepercayaan yang diberikan TWU kepada ASJ tak disia-siakan. Perusahaan lokal yang berkantor di Dusun Clangkap, Desa Kalitidu pun itu menunjukkan komitmennya untuk dapat bekerja secara professional. Terbukti TWU menambah jatah pengiriman bahan bakar industry kepada ASJ.

Hal ini menjadi peluang ASJ untuk terus mengembangkan usahanya. ASJ menambah armada agar dapat melakukan pengiriman sesuai permintaan. Sejak tahun 2009 hingga saat ini, jumlah armada yang dimiliki ASJ sebanyak 52 unit.

Rinciannya armada dengan kapasitas 32 kiloliter (KL) sebanyak 23 unit, kapasitas 30 Kl sebanyak 5 unit. Kapasitas 26 Kl ada satu unit, dan kapasitas armada 24 Kl sebanyak 23 unit. Hanya saja, meski telah berkembang, ASJ mengaku belum bisa memperkirakan peningkatan dalam setiap tahunnya. Sebab semua tergantung pada jumlah produksi minyak milik PT.TWU.

“Belum tentu bisa menambah, semua tergantung kepada PT.TWU. Tinggal bagaimana jumlah produksinya,” ujar Suryono.

Sistem kerjasama yang dilakukan antara PT.TWU dengan PT.ASJ berupa jasa angkut dengan hitungan per liter. PT.ASJ mendapat jasa Rp104 per liter. Nilai tersebut tergantung pada nilai harga solar dari PTTWU. Sedangkan untuk menetukan harga jasa angkut PT.TWU mengikuti harga minyak dunia.

“Awalnya Rp105, tapi baru saja diturunkan menjadi Rp.104 karena harga solar sedang turun,” paparnya.

Berkembangnya usaha yang dijalankan ASJ diikuti dengan terbukanya peluang kerja bagi warga lokal. Saat ini ASJ telah mempekerjakan sebanyak 125 karyawan. Sedangkan khusus untuk sopir dan kenek sebanyak 110 orang.  Para sopir ini mendapatkan upah kotor sebesar Rp1.200.000 untuk sekali kirim.

Baca Juga :   Pembubaran Dinas ESDM Bukan Masalah Krusial

“Kalau berapa kali pengirimannya tergantung PO-nya,” imbuhya.

Dalam kerjasama dengan PT TWU ini, armada  ASJ mengirimkan produk olahan minyak seperti HSD, HVGO, dan VTB. Untuk produk HSD diikirim ke Pertamina di Tuban. Sedangkan VTB dab HVGO di kirim ke Lamongan Shorebase. Pengiriman ini dilakukann secara bergantian dengan transporter lain.

Adapun jumlah omset sesuai tagihan dari ASJ dalam sebulannya sebanyak rata – rata Rp1 miliar. Omset tersebut, menyesuaikan jumlah pengiriman dan produksi yang dihasilkan PT.TWU. Dengan perolehan tersebut, PT.ASJ juga turut memberi kontribusi ke Pemkab melalui PPN sebesar 10 %. Berapa besar pajaknya, lanjut dia, tinggal menghitung dari omset yang didapat PT.ASJ.

“Kalau rata – rata omset Rp1 milyar dan pajak PPN 10 % maka pajak yang saya bayarkan Rp150 juta per bulannnya,” tutur Suryono.

Perusahaan lokal lainya yang ikut merasakan berkah keberadaan kilang mini adalah PT. Sido Makmur (Sima). Meski terhitung masih baru terlibat di jasa transporter di banding ASJ, namun Sima juga menunjukkan perkembangan signifikan. Hal itu ditandai dengan jumlah armada yang dimiliki saat ini sebanyak 36 unit.(roz)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *