SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Pemilik warung mamin masih bertahan di sekitar kilang mini. Mereka banyak melayani para supir tangki.
Bojonegoro – Adanya industri di suatu daerah akan memunculkan multiplier effect (efek ganda). Mulai dari usaha turunan, peluang usaha, hingga pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya. Seperti halnya dengan keberadaan kilang mini yang dikelola PT Tri Wahana Universal di Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Industri hilir migas itu tak hanya telah memunculkan usaha bagi kalangan perusahaan menengah ke atas. Namun hingga di grass road (kalangan bawah). Yakni bagi pemilik warung makanan dan minuman (Mamin) di sekitar kilang mini.
Bahkan mereka berani bating setir untuk membuka usaha ini. Karena keyakinan mereka usaha tersebut akan bertahan lama. Selama kilang mini masih beroperasi tetap ada pekerja yang melakukan aktifitas dan membutuhkan jasa mereka.
Salah satu penjual mamin yang menangkap peluang tersebut adalah Lamirah. Warga setempat itu membuka warung mamin dekat kilang mini sejak 2011. Yakni sejak proyek pembangunan kilang dimulai pertama kali.
Hingga saat ini, wanita paro baya itu masih setia melayani para pekerja yang terlibat di kilang mini. Yakni para supir dan kenek truk tangki pengangkut minyak olahan. Banyak para supir, kenek, maupun karyawan TWU yang jajan di warungnya untuk sekedar membeli kopi, es, makanan dan minuman maupun jajanan lainnya masih. Rata-rata mereka membelinya di saat jam istirahat siang maupun hendak pulang sore. Â
“Masih lumayan, setiap hari dapat Rp200 ribu,†kata Lamirah kepada suarabanyuurip.com, Kamis (21/1/2016).
“Yang jajan rata-rata sopir tanki. Kalau pun ada orang umum biasanya mampir,†lanjutnya.
Lamirah menceritakan, sebelum membuka warung mamin, setiap harinya beraktifitas sebagai petani, beternak sapi dan kambing. Kemudian, proyek pembangunan TWU dimulai dia diminta salah satu mandor proyek untuk memasakan makanan kepada naker.
“Berawal dari situlah akhirnya saya membuka warung hingga saat ini,†ujarnya.
Dari hasil usaha membuka warung ini telah digunakan untuk kebutuhan biaya menggarap lahan pertanian, kebutuhan rumah tangga setiap hari, dan lain sebagainya.
“Alhamdulillah bisa untuk hidup sehari-hari,†ucap Lamirah sambil melayani sopir truk tanki.
Senada disampaikan Nuril, pemilik warung mamin lainnya. Warga Sumengko itu mengaku, pendapatannya juga menurun di banding awal pembangunan kilang. Hal itu dikarenakan jumlah pekerja juga menurun setelah proyek kilang selesai dan mulai beroperasi.
“Beda jauh, Pak. Sekarang, ibaratnya dapat untung Rp50 ribu sehari saja sudah susah, kalau dulu rata-rata perhari bisa dapat Rp300 ribu,” sambung Nuril.
Baik Lamirah maupun Nuril berharap agar ada program program pelatihan bagi usaha kecil dan bantuan modal dari perusahaan untuk dapat mengembangkan usahanya. Baik membuka warung mamin maupun usaha lainnya.
“Semoga saja PT TWU ada inisiatif memberikan bantun modal. Tentunya untuk meningkatkan ekonomi,” imbuhnya.
Dari pantauan di lapangan, ada sekira lima warung mamin di sekitar kilang mini. Mereka sampai saat ini masih bertahan melayani para sopir tangki pengangkut minyak olahan dari kilang mini.(sam)