SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Wilayah Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, merupakan satu wilayah yang berpotensi terjadi bencana alam. Beberapa potensi bencana alam di wilayah tersebut adalah, tanah longsor sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo, banjir Bengawan Solo, angin puting beliung, banjir bandang, bahkan sambaran petir juga kerap terjadi di wilayah setempat.
Menurut Kepala Satpol PP Kedungtuban, Tulus Sunarko, masuk pada musim hujan saat ini yang patut diwaspadai adalah bencana banjir. Selain banjir Bengawan Solo, ada tiga titik rawan banjir bandang. Jadi Kedungtuban adalah salah satu di wilayah Blora yang juga rawan bencana alam.
“Tiga titik itu adalah Kali Glandangan, Kali (sungai) Petak di Desa Kedungtuban, Kali Wulung di Desa Gondel,” katanya, Jum’at (22/1/2016).
Selain Bengawan Solo, potensi lain bencana alam terdapat di Desa Kedungtuban yang disebabkan oleh Kali Glandangan melintasi Bendungan Mursapa.
“Musim hujan ini sudah terjadi dua kali banjir bandang, namun tidak berdampak kerugian bagi warga,” jelasnya.
Selain itu juga kali petak, yang meluber ke perkampungan juga tidak mengakibatkan kerugian. Dia menambahkan, kali wulung yang melewati Desa Gondel dan Desa Ketuwan.
“Dua desa tersebut juga menjadi perhatian,” tandasnya.
Pihaknya juga menjelaskan, sepanjang jalan Cepu-Randublatung, Kecamatan Kedungtuban rawan terjadi pohon tumbang. Karena sepanjang jalan tersebut banyak tanaman turus jalan yang masih muda dengan ranting lebat dan rawan patah jika terjadi angin kencang.
“Belum lama ini juga terjadi pohon tumbang di Jalan Cepu-Randublatung di Desa Sogo. Dua pohon jati ukuran besar tumbang karena diterjang angin dan menutup arus transportasi,” kata dia.
Angin puting beliung, menurut dia, juga pernah memporak porandakan rumah milik warga di Desa Ketuwan. “Selama musim hujan ini juga sangat berpotensi terjadi angin puting beliung dan sambaran petir yang kerap terjadi di sini,” ujar dia.
Pihaknya mengihmbau supaya masyarakat tetap waspada dan berhati-hati saat hujan datang. “Karena angin puting beliung dan petir selalu mengintai,” ungkapnya. (Ams)