SuaraBanyuurip.com -Ahmad Sampurno
Blora – Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, merupakan satu diantara kecamatan di wilayah Blora yang berproduktivitas padi cukup tinggi. Sehingga wilayah tersebut dianggap layak sebagai daerah penghasil beras.
Pasalnya, selama ini padi dari daerah setempat dijual ke luar daerah. Ironisnya, beras yang beredar di wilayah Kabupaten Blora justru berasal dari luar kota.
“Sudah waktunya Blora menjadi penghasil beras, bukan hanya pengahasil padi saja. Ironis, ketika kita sebagai lumbung padi, namun beras harus dipasok dari luar kota,†kata Agung Heri Susanto, Kepala Desa Sidorejo saat acara panen raya di desanya.
Banyak padi dari wilayah setempat yang dijual ke luar daerah, dan tak sedikit pengusaha beras yang tertarik padi dari Kedungtuban. Bahkan, lanjut dia, padinya sampai ke wilayah Indramayu.
“Karena berasnya lebih pulen di banding dengan daerah lain, dan kabarnya beras yang berasal dari padi daerah kita disana untuk campuran. Jadi kami berharap Kedungtuban menjadi centranya produksi beras,†ungakapnya.
Dia menambahkan, Blora saat ini butuh beras, namun yang menjadi pertanyaannya kenapa bukan beras dari lokal, tapi dari luar daerah.
“Seharusnya Blora sudah bisa. Karena di Blora sendiri belum ada perusahaan beras,†kata dia.
Dia optimis, jika keinginan tersebut bisa terwujud dengan dukungan dari pamerintah, karena di Kedungtuban sudah ada resi gundang. Hanya untuk pengeringan padi dan nanti untuk dijual.
“Harapan kita di sini, ada penggilingan mumpuni yang mampu memproduksi beras dalam sekala besar,†ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Desa Sidorejo telah mendapatkan bantuan bangunan dan penggilingan padi menjadi beras meskipun masih dalam sekala kecil.
“Dari uji coba yang dilakukan, dalam waktu 1,5 jam bisa menggiling 1 ton padi kering giling,†ungkapnya menerangkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan perikanan Blora, Reni Miharti, dengan bantuan penggilingan padi tersebut, Desa Sidorejo bisa menjadi Centra penghasil beras.
“Sudah diuji cobakan dan telah diserahkan kepada Gapoktan untuk dikelola dan bisa segera berproduksi,†jelas Reni.
Sementara, harapan menjadi centra produksi beras  tersebut didukung dengan total luas panen mencapai seluas 5112 hektar.
“Untuk awal panen di bulan Januari ini luas panen mencapai 300 hektar. Untuk bulan depan hingga bulan Maret luas panen bisa mencapai 3000 hektar lebih,†jelas Suparman, Kepala UPT Dinas Pertanian Perkebunan dan Perikanan Kecamatan Kedungtuban.
Dari hasil ubinan yang dilakukan belum lama ini, menurut dia, produktivitas padi di wilayah Kedungtuban Selatan cukup tinggi.
“Seperti di Dukuh Kedungbanteng Desa Sidorejo, perhektar bisa menghasilkan 12 ton padi dan di Dukuh Jetis, Desa Sidorejo menghasilkan 12,89 ton perhektar,†kata dia.
Hal itu, terjadi hampir diseluruh wilayah Kecamatan Kedungtuban Selatan. Yaitu Desa Wadu, Gondel, Ketuwan, Jimbung, Panolan, Kemantren, dan Klagen.(ams)