Desak Pemerintah Alokasikan Minyak

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Bojonegoro –  Ratusan supir dan kenek truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) industri dari kilang  mini milik PT Tri Wahana Universal (TWU) menggelar unjuk rasa di bawah jembatan layang (fly over) yang dibangun operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (27/1/2016) sekira pukul 08.00 WIB.

Mereka berangkat dari depan kilang mini di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, menuju fly over mengggunakan truk sambil menenteng poster berisi sejumlah tuntutan. Sebagiannya lagi membawa serta truk tanki pengngkut BBM industri berkapasitas antara 24 kilo liter hingga 36 kilo liter konvoi menju fly over.   

Aksi ini dipicu oleh belum pastinya alokasi minyak kepada TWU, dan kebijakan pembelian minyak mentah di floating storage and offloading oleh Kementerian ESDM. Akibat kebijakan itu sejak 20 Januari 2016 lalu, TWU menghentikan operasinya.

Dampaknya, para supir truk yang selama ini bekerja di perusahaan jasa transpoter berhenti bekerja karena TWU menghentikan operasinya. Ratusan supir dan kenek itu merupakan pekerja dari empat perusahaan lokal sekitar kilang mini yang selama ini terlibat di jasa transpoter TWU yakni PT Arta Surya Jaya, Jaya Makmur, PT BMT, dan Sigma Group.

Baca Juga :   Sebut Belum Ada Kontrak KKS di Blok Tuban

“Saat ini ada 800 supir dan kenek yang memiliki anak istri tidak bisa makan. Kami minta para pengambil kebijakan memperhatikan nasib orang kecil seperti kami,” kata Liyono, salah satu koordinator aksi.    

Sepanjang jalan massa juga melakukan orasi dengan menggunakan alat pengeras suara. Orasi kemudian di lanjutkan di bawah fly over selama sekira 15 menit.

Orasi dilanjutkan di bawah jembatan layang yang menjadi gerbang pintu masuk dan keluar kendaraan proyek Lapangan Banyuurip. Tuntutan yang disampaikan adalah mendesak kepada pemerintah pusat untuk segera memberikan pasokan minyak mentah dari Lapangan Banyuurip kepada PT TWU agar kilang mina dapat beroperasi kembali.

“Percuma di sini ada minyak Banyuurip, kalau harus dialirkan ke laut, tidak di darat.  Padahal ada ratusan warga yang menggantungkan hidupnya dari sini,” sambung Direktur Utama BMT, Budi Utomo saat berorasi membakar semangat massa.

“Kontraktor lokal harus bersatu dan jangan sampai terpecah belah oleh perusahaan baru yang berupaya menyingkirkan kita,” lanjut Budi.(suko)

Baca Juga :   Empat Kunci Agar Proyek Gas Jambaran – Tiung Biru Sukses

 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *