SuaraBanyuurip.com -Ali Imron
Tuban – Satu keluarga anggota eks Gafatar asal Perumahan Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sangat merindukan kehidupan di Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar). Penyebabnya kehidupan tradisional di daerah yang dijuluki Bumi Galaherang tersebut menjunjung tinggi gotong royong.
“Sebenarnya kami sudah nyaman disana,†kata Yuanita Wulansari (28), kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui di kediamannya, Rabu (27/01/2016).
Kenyamanan tersebut memicu keluarganya sekira bulan Oktober 2015 lalu, dengan biaya pribadi bertolak bersama rombongan lainnya ke Mempawah, Kalbar. Dalam pemberangkatan tersebut, rombongan lainnya berasal dari Lamongan, Gresik, Jombang, maupun Surabaya.
Dia menceritakan, kehidupan kurang lebih tiga bulan disana, terfokus pada kegiatan bercocok tanam. Selain itu, diselingi dengan aktifitas beternak unggas, bebek, maupun ayam.
“Semuanya dikerjakan bersama satu kelompok,†ungkapnya.
Saat itu, keluarganya memperoleh tanah seluas 0,5 hektar dari total lahan 10 hektar milik satu kelompok Gafatar. Pembelian lahan tersebut dilakukan dengan cara patungan, dan  diatas namakan kelompok Gafatar.
Terkait pembagian keuntungan rinciannya, panen pertama dan kedua hasilnya dimiliki penggarap.
Sedangkan untuk panen ketiga dan seterusnya, 80 persen untuk penggarap dan 20 persen lainnya untuk investor tak lain koordinator kelompok.
“Pembagiannya sangat menguntungkan penggarap,†tambahnya.
Dalam pertemuan rutin bulanan, setiap Kepala Keluarga (KK) diminta untuk membayar iuran Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu. Iuaran tersebut dikumpulkan untuk kepentingan kelompok.
“Tetapi tidak memaksa bagi anggota,†ujarnya.
Sama halnya Organisasi Masyarakat (Ormas) lainnya, Gafatar juga memiliki struktural dalam kelompoknya. Mulai ketua, skretaris, bendahara, sampai  ketua bidang lainnya. Khusus untuk laki-laki semuanya bekerja di sawah serentak, biasanya utnuk menggarap satu hektar lahan dikerjakan seribu orang.
Sedangkan untuk perempuan, beraktifitas sesuai jadwal piket yang telah ditentukan koordinator. Ada yang mengajar, memasak, menjaga anak-anak, maupun membersihkan rumah.
“Pendidikan juga dibagi kelas, dan kemampuan siswa,†katanya.
Selain membudayakan gotong royong, setiap anggota juga menerapkan sistem barter. Sehingga semua kebutuhan kelompok saling terpenuhi baik sayuran, maupun tanaman pangan lainnya.
“Baru sisanya dijual ke pasar di Pontianak, Singkawang, maupun Sambas,†tandasnya.
Terpisah, suami Yuanita, Patria Dwi Setyawan (30), membenarkan, kehidupan di Mempawah jauh dengan di Tuban yang sudah padat penduduknya. Bersama suku Melayu, Madura, dan Dayak.
“Kami menyesal dipulangkan, karena di Mempawah kami sudah sejahtera, dan tentu sangat merindukan kehidupan di Mempawah. Tapi mau bagaimana lagi hanya bisa pasrah saja,†pungkasnya. (Aim)