TTID KSB Terancam Vakum

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Pemerintah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kesal dengan konflik internal di Tempat Ibadah Tri Dharma (TTID) Kwan Shing Bio (KSB). Sampai awal tahun 2016 ini, pengurus TTID KSB tidak bertiktikad baik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Padahal kemelut itu telah berjalan sekira 2,5 tahun, namun sampai sekarang masih tarik ulur untuk melantik 15 pengurus terpilih, dan 5 penilik klenteng.

“Selama ini Pemkab tidak ingin ikut campur,” kata Kepala Kesbangpol Pemkab Tuban, Aguk, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui usai hearing bersama Komisi C DPRD Tuban, Senin (1/2/2016).

Alasannya, konflik tersebut semestinya menjadi rahasia kepengurusan internal. Tetapi, lambat laun kemelut tersebut mencuat ke publik dan berdampak terhadap kondisi sosial budaya daerah.

Dia menyatakan, mewakili Bupati Tuban, Fathul Huda, sangat kecewa dengan kedua belah pihak, baik panitia pelantikan pengurus, maupun forum penyelamat umat TTID KSB.

“Seharusnya keduanya sadar, dan jangan menggunakan ego kekuasaan,” imbuhnya.

Sesuai hasil hearing yang tidak membuahkan hasil, Pemkab bakal memanggil satu persatu pengurus KSB. Apabila salah satu pihak tidak menghadiri undangan, terpaksa Pemkab tidak membarikan izin kegiatan ataupun pembangunan di klenteng yang menghadap pantai utara Tuban tersebut.

Baca Juga :   Gelar Pelatihan Daur Ulang Sampah

“Kami tidak izinkan adanya kegiatan yang mengundang kerumunan masa,” tegasnya.

Selain itu, beredar kabar bakal dibangunnya Pagoda 7 lantai juga terancam gagal, apabila pengurus tidak memiliki iktikad menyelesaikan kemelut.

Sementara, Ketua Komisi C DPRD Tuban, Maratun Sholihah, menyetujui keputusan Pemkab Tuban. Pihaknya juga kesal terhadap pengurus TTID KSB setempat, penyebabnya upaya fasilitasi selama ini hasilnya nihil.

“Kami hanya bisa memfasilitasi, tidak bisa lebih,” sambungnya.

Diketahui, salah satu dampak yang paling ketara akibat kemelut kepemimpinan TTID KSB yakni penurunan jumlah pengunjung. Tercatat sebelum kemelut tersebut terjadi, jumlah pengunjung per bulan rata-rata 30 ribu orang. Akan tetapi saat ini hanya mencapai 4 sampai 5 ribu pengunjung.

Selain penurunan jumlah pengunjung dampak lainnya meliputi kepercayaan masyarakat mulai menurun, tamu dari luar kota berkurang, umat dari TITD KSB ketakutan, dan penghasilan beberapa masyarakat yang berjualan sekitar klenteng tidak stabil.(aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *