Asem Jawi Pangimbang Jati, Warisan Sunyi Penjaga Ekologi Bojonegoro

Ahmad Wahyu Rizkiawan
Peneliti yang fokus pada Evironmental History, Ahmad Wahyu Rizkiawan (kanan) saat berada di bawah Pohon Asam Jawa nan besar dan tua di Desa Semlaran, Kecamatan Malo. Wilayah ini dulu dikenal dengan nama Telang.(arifin jauhari)

Para pinisepuh kerap membicarakan hutan dan keseimbangan hidup, Asem Jawi Pangimbang Jati. Ungkapan ini bukan sekadar peribahasa, melainkan pengetahuan ekologis yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur.

‎Sore itu, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, diselimuti cahaya temaram. Matahari perlahan merunduk ke balik cakrawala, meninggalkan bias jingga yang memudar di langit barat. Semilir angin mengayun lembut hamparan padi di persawahan, sementara dedaunan pohon-pohon besar berdesir pelan. Aroma tanah basah sisa hujan kian menguatkan kesejukan alam pedesaan.

‎Di bawah tegakan pohon asem yang besar dan rindang di Desa Semlaran, Kecamatan Malo, dua sosok tampak berdiri bernaung. Salah satunya adalah Ahmad Wahyu Rizkiawan, seorang peneliti yang menaruh perhatian khusus pada kajian Environmental History, menelusuri jejak hubungan panjang antara manusia dan lingkungannya.

‎Di Bojonegoro, alam tak pernah hadir sebagai latar yang bisu. Ia berbicara melalui pepohonan tua, alur sungai, serta ungkapan-ungkapan yang diwariskan lintas generasi. Salah satunya adalah kalimat yang kerap diucapkan para pinisepuh saat membicarakan hutan dan keseimbangan hidup: Asem Jawi Pangimbang Jati.

‎Ungkapan ini bukan sekadar peribahasa, melainkan pengetahuan ekologis yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat Bojonegoro dalam berhadapan dan berdamai dengan alamnya sendiri.

‎Pohon asam jawa (Tamarindus indica), atau asem jawi, sejak lama dipahami memiliki posisi khusus dalam lanskap ekologis wilayah ini. Ia tumbuh berdampingan dengan jati, pohon yang mendominasi hutan Bojonegoro dan menjadi penopang ekonomi sejak masa kolonial.

‎Namun di balik dominasi jati, masyarakat lokal membaca tanda lain: bahwa alam tak pernah dirancang untuk seragam. Asem jawi hadir sebagai penyeimbang, menjaga struktur tanah, menyimpan air, serta memberi ruang hidup bagi organisme yang tak mampu bertahan di bawah tegakan jati yang rapat.

‎Noer Fauzi Rachman, peneliti agraria dan dosen yang lama mengkaji relasi manusia dan lingkungan, menyebut ungkapan Asem Jawi Pangimbang Jati sebagai bentuk kecerdasan ekologis masyarakat lokal. Dalam tulisannya, ia menyebutnya sebagai kredo ekologis, ungkapan yang lahir dari relasi sosial, sejarah pengelolaan hutan, dan pengalaman ekologis lintas generasi.

‎“Ungkapan itu bukan romantisme budaya, melainkan cara masyarakat membangun nalar keseimbangan di tengah perubahan lanskap,” kata Noer Fauzi kepada Suarabanyuurip.com.

Baca Juga :   Peringati HUT Ke-80 RI, Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Bojonegoro Bersihkan Sungai
Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina Rahmati.
Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina Rahmawati.(arifin jauhari)

‎Sementara itu, peneliti yang fokus pada kajian ‘Enviromental History’, Ahmad Wahyu Rizkiawan, membuka catatan sejarah, pada awal abad ke-19, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Daendels bahkan terkesima dengan pohon asam jawa yang besar dan berumur panjang di Jawa.

‎“Daendels kemudian mewajibkan penanaman pohon asam jawa di sepanjang Jalan Raya Pos,” tutur Rizkiawan.

‎Namun jauh sebelum kebijakan kolonial itu lahir, kata Rizky, begitu ia disapa, masyarakat Bojonegoro telah lebih dulu menempatkan asem jawi sebagai penanda ruang dan waktu. Di wilayah-wilayah tua seperti Malo dan sekitarnya, pohon-pohon asam jawa berdiri sebagai saksi bisu perubahan zaman, dari era kepercayaan lokal, masuknya Hindu-Buddha, hingga Islam yang berbaur dengan tradisi setempat.

‎Dalam konteks spiritual Jawa, pohon besar tidak pernah dipandang sebagai benda mati semata. Ia bagian dari kosmos (semesta). Dalam tradisi Islam Jawa, dikenal kisah wirid wit, doa dan kontemplasi yang dilakukan dengan memaknai pohon mengajarkan bahwa alam adalah tanda kehadiran Ilahi.

‎Asem jawi, dengan umur panjang dan tajuk yang menaungi, kerap dimaknai sebagai simbol kesabaran, ketekunan, dan keseimbangan. Nilai-nilai ini hidup berdampingan dengan jati yang melambangkan kekuatan dan ketegasan.

‎Bagi peneliti sekaligus santri yang getol mempelajari Gramatikal Arab itu, relasi simbolik ini penting dibaca dalam konteks hari ini. Ia mengingatkan bahwa banyak krisis ekologis justru lahir ketika satu unsur dipaksakan menjadi dominan, baik itu satu jenis tanaman, satu kepentingan ekonomi, maupun satu cara pandang pembangunan.

‎”Ungkapan Asem Jawi Pangimbang Jati menjadi kritik halus terhadap kecenderungan monokultur dan eksploitasi berlebihan yang mengabaikan keseimbangan ekologis,” bebernya.

‎Bagi masyarakat Bojonegoro, ungkapan ini tidak berhenti sebagai bahasa. Ia menjelma laku hidup. Pohon asam jawa jarang ditebang sembarangan. Ia dibiarkan tumbuh di tepi sawah, dekat permukiman, atau di batas hutan. Keberadaannya diterima sebagai bagian dari tata kehidupan.

‎Dalam bahasa para tetua, menjaga asem jawi berarti menjaga “napas tanah” agar tidak cepat kering, tidak mudah rusak, dan tetap memberi kehidupan.

‎Di tengah laju pembangunan dan tekanan ekonomi, pengetahuan lokal semacam ini kerap dianggap kuno. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia lahir dari kegagalan dan keberhasilan yang dialami langsung oleh masyarakat. Ia diuji oleh waktu. Hari ini, ketika wacana keberlanjutan dan krisis iklim makin mengemuka, kredo ekologis dari Bojonegoro ini menemukan relevansinya kembali.

‎Asem Jawi Pangimbang Jati bukan nostalgia, melainkan pengingat. Alam selalu bekerja dengan prinsip keseimbangan. Manusia yang hidup paling lama adalah mereka yang mau mendengar tanda-tanda itu.

‎”Dan kearifan lokal, ketika dibaca dengan jernih, sering kali menyimpan jawaban atas persoalan-persoalan ekologis yang kita hadapi hari ini,” tegas Rizky.

Baca Juga :   Hari Tanam Pohon Sedunia, GELAR Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

‎Terpisah, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro), Laily Agustina Rahmawati menuturkan, bahwa ungkapan ‘Asem Jawi Pangimbang Jati’ sebenarnya mencerminkan prinsip dasar ekologi modern: ekosistem yang sehat tidak dibangun oleh satu spesies yang dominan, tetapi oleh keberagaman yang saling menopang.

‎Jati memberi struktur hutan, tetapi asem jawa menjaga keseimbangan tanah, air, dan kehidupan organisme lain di bawahnya. Dalam istilah ilmiah, ini adalah mekanisme alami peningkatan resiliensi ekosistem melalui keanekaragaman spesies.

‎Pohon asem jawa berfungsi seperti pusat kehidupan di dalam lanskap hutan jati. Tajuknya menciptakan iklim mikro, serasahnya menyuburkan tanah, dan buahnya menjadi sumber pakan bagi burung, serangga, hingga mamalia kecil. Secara ekologis, ia adalah struktur kunci yang menopang jejaring kehidupan. Tanpa elemen seperti ini, hutan mudah menjadi homogen dan miskin biodiversitas.

‎Di wilayah musiman seperti Bojonegoro, pohon berkanopi besar seperti asem jawa berperan sebagai penyangga iklim mikro. Ia membantu tanah menyimpan air, menurunkan suhu sekitar, dan menjadi tempat perlindungan organisme saat kondisi ekstrem.

‎”Jadi kearifan lokal ini selaras dengan konsep solusi berbasis alam yang kini dipromosikan secara global untuk menghadapi krisis iklim,” tuturnya.

‎Peneliti yang menerima penghargaan Penggiat Geopark dari Bupati Bojonegoro dalam kategori keanekaragaman hayati ini melanjutkan, bahwa apa yang disebut masyarakat sebagai ‘menjaga napas tanah’ secara ilmiah berarti menjaga fungsi hidrologi, kesuburan tanah, dan siklus nutrien ini menunjukkan bahwa pengetahuan ekologis lokal bukan sekadar simbol budaya, tetapi hasil pengamatan panjang terhadap cara alam bekerja.

‎”Dengan kata lain, masyarakat Bojonegoro telah mempraktikkan ekologi lanskap tropis berbasis biodiversitas jauh sebelum istilah itu dikenal dalam sains,” tandasnya.(arifin jauhari)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait