Banjir Gelombang Dua Diprediksi Lebih Besar

SuaraBanyuurip.comD. Suko Nugroho

Bojonegoro - Setelah sempat berada di bawah siaga, Sungai Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur kembali memasuki siaga hijau. Bahkan diprediksi banjir gelombang kedua kali ini diprediksi lebih besar dibanding beberapa hari lalu.

Sejak sore pukul 16.00 WIB tadi, kondisi tinggi muka air (TMA) sungai terpanjang di Pulau Jawa itu terus meningkat hingga mendekati siga kuning.

“Diperkirakan kenaikan TMA ini akan lebih tinggi dan lebih lama dibandingkan hari Senin lalu,” kata Bupati Bojonegoro, Suyoto.

Berdasarkan kondisi tersebut, Suyoto menginstruksikan kepada jajarannya untuk meningkatkan kewaspadaan, utamanya daerah di bantaran Sungai Bengawan Solo. Dalam instruksinya Suyoto meminta kepada seluruh camat untuk berada di daerah terdampak dan melakukan pemantaun, dan menginformasikan perkembangan kondisi TMA kepada seluruh masyarakat.

“Semua harus tetap meningkatkan kewaspadaan,” tegas Suyoto.

Sesuai data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, pada siaga II lalu TMA tertinggi yang terpantau di TBS mencapai 14.68 peilschal. Diprediksikan kenaikan TMA sungai bengawan solo untuk gelombang kedua ini diprediksikan menyentuh angka 14.80 peilschal.

Baca Juga :   SHE Ronggolawe Community Berbagi di Sumurgeneng

“Kenaikan ini dikarenakan beberapa faktor antara lain kenaikan TMA di daerah hulu. Dari pantuan dan informasi yang kami peroleh TMA di daerah hulu menunjukkan trend kenaikan,” sambung Kepala BPBD Bojonegoro, Andik Sudjarwo.

Saat ini di papan duga Karangnongko Desa Luwihaji Kecamatan Ngraho ketinggian 27.86 peilschal, mengalami kenaikan dibanding kondisi pada pukul 09.00 WIB pagi tadi pada ketingian  27.65 peilschal.

BPBD menghimbau hal lain yang harus diwaspadai adalah hujan lokal yang terjadi di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Karena selama ini salah satu penyumbang kenaikan ketinggian air di Bengawan Solo adalah suplai dari anak –anak sungai bengawan solo yang berada di wilayah Bojonegoro. Selain hujan lokal dan ketinggian hulu, satu faktor lain yang harus diperhatikan adalah pasang surut air laut. Pasang air laut ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain bulan mati atau  pergantian bulan, bulan purnama serta akibat peristiwa alam seperti gerhana baik matahari maupun gerhana bulan.

“Untuk daerah-daerah terdampak sudah mulai disiagakan dapur komunitas,” tegasnya.

Baca Juga :   SKK Migas - KKKS Salurkan 1.000 Paket Bantuan untuk Bencana di Sumbar

Berdasarkan data di BPBD Bojonegoro, dapur komunitas di wilayah Bojonegoro tersebar di 12 Kecamatan. Dengan rincian Kecamatan Margomulyo 2 titik yakni Desa Ngelo dan Kalangan. Kecamatan Ngraho di Desa Luwihaji dan tapelan, Padangan di Desa Padangan dan desa Tebon. Desa Purwosari Kecamatan Purwosari. Kemudian Kecamatan Kalitidu di tiga titik yakni Desa Leran, Desa Mojosari dan Talok.

Dapur komunitas lainnya berada di Desa Ngablak, Kecamatan Dander.  Gedung Serbaguna Desa Ledokkulon Kecamatan Bojonegoro. Desa Trucuk dan taman Ebaga di Kecamatan Trucuk. Desa Bogo Kecamatan Kapas.

Sedangkan untuk Kecamatan Balen terdapat di Desa Sekaran dan Kedungdowo. Kecamatan Kanor ditiga titik yakni Kecamatan Kanor, SDN piyak dan SMKN Kanor. Sedangkan untuk Kecamatan baureno di Desa Kalisari dan Karangdayu.

“Sore ini semua pintu doorlat sudah dicek untuk kesiapan kemungkinan besuk ada tambahan hujan lokak dengan intensitas tinggi,” pungkas Andik.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *