SuaraBanyuurip.com -Â Winarto
Bojonegoro – Meski belum siang, terik matahari disekitar Ladang Migas, Banyuurip, Blok Cepu terasa menyengat bagaikan dimusim kemarau. Padahal jarum jam baru menunjukkan 08.15 Wib. Namun hal itu tak membuat Mbah Syukiran warga Dusun Ledok, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa Timur bergeming.
Hanya dengan berbekal Caping terbuat dari anyaman bambu yang sudah kusam menjadi satu – satunya tempat berteduh saat mengembala kambing.
“Saben pagi dan sore saya selalu mengembala kambing dipinggir pagar (Luar pagar) lokasi proyek Blok Cepu yang dioperatori ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL) ini,” tutur kakek yang kini berusia 60 tahun lebih mengawali pembicaraan.
Sederet awan tipis bergelantung disetiap sudut langit. Berjalan iring-iringan digendong angin. Seakan menghias deru suara mensin dari dalam proyek yang dipergunakan Perusahaan memuntahkan emas hitam dari perut bumi Gayam.
Sambil duduk dipematang sawah Mbah Syukiran meneruskan ceritanya tak peduli aktivitas mobil proyek dan api Flare di Central Procesing Fasility (CPF) menari – nari begitu jelas. Hanya pergerakan kambing – kambingnya tampak sibuk memakan rumput hijau yang selalu diawasinya.
Dia mengaku, bahwa pertengahan tahun yang silam jumlah ternak kambing yang dimilikinya banyak. Karena untuk mencukupi kebutuhan hidup harus dijualnya.
“Pernah kambing saya sampai 25 ekor, kini tinggal 12 ekor karena saya jual untuk kebutuhan hidup,” ujar kakek dua cucu.
Lebih jauh Mbah Syukiran bercerita, bahwa dia juga pernah memiliki lahan di area proyek Blok Cepu. Kala itu tanahnya terkena pembebasan untuk kepentingan proyek negara tersebut terjual dengan harga Rp15 ribu permeter.
“Saya jual tahun berapa sampai lupa dan uangnya dibagi dengan saudara-saudara karena tanah warisan orang tua,” ceritanya
Menurut Mbah Syukiran, harga Rp15 ribu kala itu sudah begitu tinggi, meski akhir – akhir pembebasan lahan mencapai ratusan ribu dirinya tidak menyesal. Hanya secuil harapan tersirat bahwa cucunya yang kini masih aktif menjadi driver di proyek yang konon memiliki sumber terbesar se Asia itu tetap dilibatkan terus.
“Katannya bulan tujuh kontraknya habis, semoga diperpanjang lagi karena hanya itu pekerjaan yang ia bisa. Dan Cucu saya cuma lulusan STM,” ucapnya dengan nada berharap.
Mbah Syukiran yang begitu ramah, tiba-tiba menghentikan ceritanya, dan membuka tas kresek berisi sebotol air mineral yang ditenteng disamping pinggangnya diulurkan air tersebut disuruh meminumnya.
“Cuma ini yang saya bawa, air putih untuk menghilangkan dahaga silakan minun,” kata Mbah Syukiran sambil menawarkan air.
Sambil berjalan mengawasi 12 ekor kambingnya agar tidak makan tanaman pertanian di sekitar Mbah Syukiran pun menyudahi bercerita dan kemudian merangkak menjauh dari tempat yang semula di dekat pagar proyek menuju jalan desa.
Namun pria yang telah berusia senja ini tetap mengimpikan keberadaan proyek Banyuurip kedepan selalu membawa berkah bagi warga sekitar dan bukan petaka yang dirasakannya.
“Maaf saya tak melanjutkan mengawasi kambing ya, biar tidak makan tanduran (tanaman) pertanian,” pungkas warga desa ring satu Banyuurip ini. (Win)