SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, meminta pihak Bulog mengontrol harga jagung lokal di Kabupaten Tuban. Rendahnya harga jagung di wilayah setempat, akibat tingginya curah hujan serta pola pengeringan jagung yang tidak sesuai prosedur.
“Bulog harus menyerap jagung petani lokal minimal Rp 3 ribu per kilogram,” kata Mentan Amran Sulaiman, kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui di Desa Banyubang, Kecamatan Grabagan, Tuban, Sabtu (5/3/2016).
Soal rendahnya harga jagung ketika musim penghujan, sudah menjadi keresahan petani Nasional. Problemnya sebagian besar petani tidak memahami, berapa kadar air jagung yang layak dijual.
“Minimal kadar airnya harus 17 persen, itu jagung kualitas bagus,” tuturnya.
Besaran kadar air tersebut, petani tidak usah khawatir soal harganya. Banyak perusahaan yang bakal membelinya dengan harga Rp 3.700 per kilogramnya. Patokan harga tersebut sudah ideal, dan standart Nasional.
“Kalau kadarnya masih 35 persen, harganya Rp 2.400 per kg,” tambahnya.
Apalagi produksi jagung Tuban setiap tahunnya meningkat. Kondisi tersebut idealnya dimanfaatkan petani untuk mengeringkan jagung sampai kadar airnya 17 persen.
Apabila cuaca buruk petani dapat meminta bantuan, berupa alat pengering kepada Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Apalagi Tuban telah memilki resi gudang pertanian, fasilitas tersebut seharusnya mampu mendukung kesejahteraan petani.
Tak hanya menekan Bulog, Mentan berjanji bakal memberikan bantuan bibit jagung gratis. Tahun ini sekira 1,3 juta bibit dialokasikan untuk seluruh Indonesia.
Terkait luasan lahan jagung di Tuban, Mentan meminta petani mengoptimalkan. Penyebabnya pasokan jagung mampu mencukupi kebutuhan lokal, bahkan produksinya surplus setiap tahunnya.
Tercatat, lahan tanam jagung Tuban ada 20 ribu hektar. Apabila satu hektarya rata-rata produksi 8 ton, hasilnya 160 ribu ton jagung.
“Jumlah ini mendukung kebijakan penekanan impor pangan,” pungkasnya. (Aim)