SuaraBanyuurip.com -Â
Di antara keluarga korban kecelakaan maut di jalan  nasional Bojonegoro – Padangan, bisa jadi, Sumardi, yang paling terpukul. Nyawa istri dan anaknya terenggut dalam peristiwa tragis tersebut.   Â
Kedua mata Sumardi masih terlihat sembab. Guratan kesedihan terpancar jelas di raut wajahnya yang legam.
Maklum, pria berusia 45 tahun itu baru saja kehilangan dua orang yang disayanginya. Susmiyati (38), istrinya dan anaknya, Vidi Mahendra (7), meninggal dunia dalam kecelakaan maut di Jalan Nasional, tepatnya di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Peristiwa tragis itu bermula ketika istri dan anaknya yang masih duduk di bangku kelas 1 Madarasah Ibtidaiyah (MI) itu ikut menghadiri hajatan pernikahan kerabatanya yang berasal Desa Payaman, Kecamatan Ngraho di wilayah Kabupaten Gresik.
Korban berangkat bersama kerabat lainnya dari rumahnya di RT.01, RW.03 Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan menggunakan mobil Izusu Elf bernomor polisi K 1038 HN yang dikemudikan Toha Mahsum, warga Cabean, Kecamatan Cepu. Dalam mobil itu korban bersama kerabat lainnya yang berjumlah 18 orang.
Tapi naas, sepulang menghadiri resepsi pernikahan di Gresik, mobil yang ditumpanginya, tiba-tiba oleng ke kanan. Saat bersamaan, dari arah barat muncul Mobilio bernopol S 1121 XY yang disupiri Teguh Catur Arif Wibowo, warga Desa Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro.
Tabrakanpun tak bisa dihindari. Mobil Elf yang ditumpangi ibu dua anak itu terguling dan terseret hingga sejauh beberapa meter. Susmiati dan anaknya berserta lima penumpang lainnya meninggal dunia di lokasi kejadian.
“Malam sebelum berangkat, dia pamit kepada saya kalau mau menghadiri hajatan di Payaman. Dia juga bilang mau berangkat jam 7 pagi,†kenang Sumardi kepada suarabanyuurip.com saat di temui di rumahnya, Senin (7/3/2016).
Sumardi sempat melarang Istrinya berangkat karena alasan baru sembuh dari kanker. Namun, karena pertimbangan hajatan tersebut adalah keluarganya, akhirnya Sumardi mengizinkan Susmiyati berangkat.
Bahkan, saat itu, almarhum juga sempat menawari anak pertamanya, Fahmi Ardian, yang saat ini masih duduk di bangku kelas 3 SMP, untuk ikut menghadiri resepsi di Gresik.
Namun ajakan tersebut ditolak Fahmi. Padahal, biasanya, Fahmi kerap ikut kemana ibunya pergi. Tapi semua itu ditanggapi biasa oleh Sumardi. Karena Ia tak melihat ada kejanggalan pada istrinya. Baik sikap maupun ucapanya.
“Dan seperti biasa saya jam 5 pagi berangkat ke pasar untuk berjualan. Saat itu saya tidak ada firasat apapun,” tutur Sumardi.
Hanya saja, satu minggu sebelum kejadian tersebut, Sumardi mengaku bermimpi diundang hajatan panen padi. Namun Ia tak menghiraukan mimpi tersebut dan menganggapnya sebagai bunga tidur.
Terlebih pada saat yang hampir bersamaan, istrinya juga sempat bercerita kepada Sumardi, jika bermimpi olahraga sendirian di Blora. Bahkan dalam mimpi itu Susmiyati bercerita sempat ditanya kenapa bapaknya tidak ikut. Namun Sumardi tak menanggapi mimpi tersebut.
Namun tak dinyana mimpi itu sebagai pertanda. Mulai dari mimpi hajatan, ternyata sekarang di rumah Sumardi ada hajatan karena istri dan anak saya meninggal dunia. Sedangkan mimpi istrinya olahraga sendirian tanpa mengajaknya, melambangkan Susmiyati ingin meninggal tanpa mengajaknya. Â Â
“Semua pertanda itu sepertinya baru terjawab sekarang. Pamit dia malam itu ternyata pamitnya yang terakhir kali kepada saya,†ucap Sumardi lirih.
Pertanda lainnya yang baru terjawab adalah saat Minggu sore sebelum ada kabar kecelakaan, Sumardi merasa ingin berada di warung Desa Cabean tempat usaha yang dikelola istrinya. Dia sampai habis mahgrib di warung itu.
Hingga sampai pukul 18.30 WIB, Sumardi mendapatkan kabar jika kendaraan yang ditumpangi istrinya mengalami kecelakaan. Istri dan anaknya juga dikabarkan meninggal dunia.
Dengan rasa tidak percaya, Sumardi mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan pendek ke beberapa nomor telepon tetangganya yang berangkat bersama istrinya untuk memastikan kabar tersebut. Namun semua tidak ada respon.
Kemudian Sumardi bersama anak laki-laki pertamanya, Fahmi  mengendarai sepeda motor menuju lokasi kecelakaan di Desa Ngringinrejo. Tapi sesampai dilokasi dia tak mendapati istri dan anaknya. Sumardi lalu melanjutkan perjalanan menuju Puskesmas Kalitidu, dan ternyata juga tidak mendapati.
“Saya langsung menuju Rumah Sakit di Bojonegoro. Di sana saya mendapati mereka sudah meninggal,” pungkasnya.
Pada malam itu juga jenazah anak dan istrinya di bawa pulang ke rumah duka, dan esok harinya dimakamkan di tempat pemakanan umum desa setempat.
Dalam kenangan Sumardi, almarhum sitrinya  adalah sosok istri yang baik. Istri yang penurut dan seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya. “Dia istri yang rajin dan nriman,” pungkasnya menutup pembicaran. (ahmad sampurno)