Momen Gerhana Mahasiswa Fokus Konservasi

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Sedikitnya 70 mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi, dan dosen Universitas PGRI Rongolawe (Unirow) Tuban, Jawa Timur memanfaatkan momentum gerhana matahari untuk kegiatan positif. Kegiatan konservasi dipilih, lantaran kondisi ekosistem pantai di wilayah setempat memprihatinkan.

“Konservasi harus dilakukan sejak dini,” kata Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unirow Tuban, Rizal Firmansyah, kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (9/3/2016).

Kegiatan konservasi difokuskan di Mangrove Center Tuban (MCT), Kecamatan Jenu, Tuban. Dimana tumbuhan bakau dipilih lantaran mampu menahan abrasi pantai. Tanaman tersebut dikenal memiliki ciri khas akar kuat, dan bertahan ketika cuaca ekstrem melanda.

Selain meminimalisir abrasi pantai akibat gelombang tinggi, puluhan mahasiswa juga menjaga zona estuari. Zona tersebut merupakan pertemuan aliran sungai, dan laut. Rata-rata didominasi udang, ikan, maupun kepiting.

Meskipun Unirow pernah mendapatkan sanksi Nonaktif dari Dikti, tetapi tidak lantas diam melihat lingkungan rusak. Perlahan melalui organisasi mahasiswa, Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbesar di Tuban kerap menggelar kegiatan lingkungan.

Baca Juga :   Kedepan Tak Ada Kesenjangan Sekolah Swasta dan Negeri

Tercatat, Kabupaten Tuban dengan panjang 65 Km sangat potensial fungsinya. Salah satunya menjadi destinasi wisata keluarga, dan edukasi riset bagi sekolah maupun pendidikan tinggi.

“Tidak ada kata terlambat untuk konservasi,” imbuhnya.

Sementara, Rektor Unirow Tuban, Supiana Dian, mengatakan, konservasi harus mulai dilakukan oleh masyarakat pesisir Tuban. Jangan sampai insiden abrasi membahayakan pemukiman warga.

“Apalagi jarak pemukiman penduduk sangat dekat dengan laut,” sambungnya.

Misalnya pemukiman penduduk di Kecamatan Bancar, hanya berjarak 5 meter itupun saat surut. Mirisnya ketika musim angin barat tiba, gelombang laut kerap merusak bagian belakang rumah.

“Mahasiswa harus memulai, dan memberikan contoh konservasi,” tandasnya.

Selain melestarikan lingkungan laut, pihaknya berharap mampu memberikan dan membangun habitat bagi hewan maupun organisme mikro lainnya. Habitat yang sehat harus terwujud, supaya keberadan hewan laut tidak terancam punah, dan melestarikan keturunannya.

Pantai sama pentingnya dengan hutan. Banyak ekosistem hidup didalamnya, baik mahluk hidup mikro ataupun makro. Semua itu harus dipelihara, demi keseimbangan alam Tuban. Tingginya gelombang laut akibat La Nina, harus diantisipasi sejak dini.

Baca Juga :   PKC PMII Jawa Timur Gelar Sarasehan Bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa

Salah satunya menanam tumbuhan bakau, sebagai penahan gelombang. Diketahui, tanaman bakau memiliki akar kuat, dan mampu bertahan dalam cuaca ekstrem. Selain itu, konservasi sangat penting bagi kelangsungan zona estuari.

Zona tersebut menjadi habitat bagi organisme autotrof, dan tumbuhan hijau lainnya. Estuari atau dikenal sebagai pertemuan sungai dengan laut, memiliki tingkat produsktifitas tinggi.

Dimana terjadi proses fotosistesis sepanjang tahun. Beberapa upaya penyelamatan oragnisme pantai meliputi, memperbaiki daerah lahan atas, mengoptimalkan Sumber Daya Alam (SDA) secara maksimal, dan menjaga kebutuhan air. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *