SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Pihak eksekutif Pemerintah Daerah (Pemda) Tuban, Jawa Timur, telah mengirimkan surat penegasan terkait kegiatan ekplorasi Minyak dan Gas Bumi (Migas) di wilayahnya. Penyebabnya sampai triwulan I tahun 2016, belum ada satupun operator Migas yang berkomunikasi kepada Pemda.
“Kami telah surati tiga operator Migas,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Tuban, Budi Wiyana, kepada Suarabanyuurip.com, melalui selulernya, Senin (14/3/2016).
Besarnya potensi Migas di sektor darat maupun laut di Tuban, sangat diharapkan Pemda mampu mendorong perekonomian daerah. Tetapi sampai kini belum ada satupun operator yang membalas surat tersebut.
“Tak ada satupun yang membalas suratnya,” jelas pria yang dulunya menjabat kepala Bappeda Tuban ini.
Ketiga operator tersebut meliputi, operator Lapangan Sumber, Kecamatan Merakurak, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ), operator Lapangan Tawun Gegunung, yang dikerjakan Kerja Sama Operasional (KSO) Tawun Gegunung Energy (TGE), dan operator Lapangan Lengo Blok Bulu, PT KrisEnergy, Tuban.
Seluruh operator tersebut sampai saat ini belum berkomunikasi serius ke Pemda. Padahal Pemda butuh kepastian, apa penyebab terhentinya proyek pengembangan Migas tersebut.
“Kalau soal harga minyak dunia sudah wajar,” tambahnya.
Soal naik turunnya minyak dunia juga dialami oleh operator Lapangan Lengo, PT Kris Energy. Tahun ini gagal menyelesaikan pemasangan pipa gas, di Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, Tuban.
Diketahui, tujuan pengiriman surat tersebut, lantaran Pemda ingin mengetahui sejauh mana perkembangan proyek eksplorasi Migas di Wilayahnya. Informasi awal lapangan Sumber kabarnya mulai dikerjakan tahun 2015, namun realitasnya terhenti.
“Serupa pengelolaan Sumur tua oleh KSO TGE, tampaknya masih jalan ditempat,” ungkapnya.
Pihaknya berharap ketiga operator Migas Tuban aktif bersinergi dengan Pemda. Penyebabnya Pemda memiliki hak atas keterbukaan informasi di wilayahnya, selaras dengan UU Nomor 14 tahun 2008. (Aim)