TWU Sebut Ditawari Harga PEPC -USD0.50 per Barel

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Bojonegoro – Penetapan alokasi dan harga crude oil (minyak mentah) dari mulut sumur Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, untuk kilang mini milik PT Tri Wahana Universal (TWU) di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur belum diputuskan pemerintah.

Namun Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) disebut telah memberikan tawaran harga kepada PT TWU sesuai ICP Arjuna di floating storage and offloading (FSO) Gagak Rimang sebesar -USD 0,50 per barel. FSO Gagak Rimang ini berada sekira 95 kilo meter (KM) dari Kilang Mini.

Harga tersebut jauh berbeda dengan harga yang diberikan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) kepada TWU untuk kontrak pembelian lima tahun pertama. Yakni pada 2009 TWU mendapatkan harga dari mulut sumur sebesar -USD6.70 per barel, tahun 2013 -USD5.31 per barel, tahun 2014 – USD4.76 per barel, dan tahun 2015 -USD3.50.

Perubahan harga ini dikarenakan kontrak pembelian untuk lima tahun pertama telah habis pada 2015. Sedangkan kontrak lima tahun kedua belum ada kepastian alokasi dan harga dari pemerintah.

“Yang menentukan harga crude oil ini adalah pemerintah, bukan pertamina atau EMCL. Jadi kita menunggu harga dan alokasi dari pemerintah,” kata CEO PT TWU, Rudy Tavinos saat memperlihatkan slide kepada media lokal dan nasional yang melakukan kunjungan ke kilang mini beberapa waktu lalu.

Baca Juga :   Kebakaran Sumur Minyak di Blora, Dinkes Siagakan Tenaga Medis 24 Jam

Sepanjang tahun 2015 lalu, perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Saratoga itu menerima minyak mentah dari Lapangan Banyuurip sebanyak 5.376.804 bbls. Dari jumlah tersebut kemudian diolah dan dijual menjadi tiga produk yakni berbentuk HSD/ solar 558.712 kilo liter (KL), LSWR 246.900 KL, dan SRG 6.065 KL.

Sedangkan pada tahun 2016 sampai dengan Februari jumlah minyak mentah yang diterima sebanyak 213.935 bbls dengan penjualan produk HSD sebanyak 28.373 KL, LSWR 27.185, dan SRG 1.380.

Menurut Rudy, harga yang diterima TWU lebih murah karena pembelian dilakukan Early Oil Expansion (EOE) dan Early Production Facility (EPF) Banyuurip dengan infrastruktur pipa untuk pendistribusian minyak mentah yang dibangun TWU sendiri.

“Ibaratnya kita membeli buah-buahan itu di kebunnya langsung, bukan di super market. Tentu harganya lebih murah, karena tidak ada tambahan biaya transportasi,” ujar Rudy, menjelaskan.

Sekarang ini, TWU juga telah membangun jaringan pipa sebesar 6 inci di pusat fasilitas pemrosesan minyak mentah (central processing facility/CPF) di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, menju kilang mini di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu. “Sudah siap infrastrukturnya, tinggal putar kran saja,” tegas lulusan teknik kimia Institute Teknologi Bandung (ITB) itu.

Baca Juga :   Petani Tuntut Ganti Rugi Tiga Musim Tanam

Dia berharap, pemerintah segera menerbitkan harga minyak mentah di mulut sumur untuk mendukung pembangunan kilang mini di daerah-daerah penghasil sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No 146/2015 tentang pelaksanaan pembangunan kilang minyak di Indonesia. Selain itu, juga akan mempermudah dan akan memangkas biaya transportasi dari sumur ke kilang mini.

“Sudah saatnya ada harga minyak dari mulut sumur. Ini bukan untuk TWU saja, tapi untuk kilang-kilang yang akan dibangun di Tanah Air demi menjaga ketahanan energi dalam negeri,” pungkas Rudy.

Sebelumnya, perwakilan PEPC, Bob Wikan enggan memberikan keterangan tentang harga minyak mentah dari Lapangan Banyuurip dengan alasan bukan kewenangannya.

“Ada bagiannya sendiri. Saya hanya khusus menangani proyek Gas Jambaran – Tiung Biru,” kata Bob saat ramah tamah dengan wartawan Bojonegoro di salah satu rumah makan.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *