Bila Kinerja Jurnalis Dilakonkan Ketoprak Wado

KEDATANGAN Tumenggung Alab-alab dari Mataram di pintu masuk Bumi Mangiran, disambut tak ramah Demang Bantul. Dengan didampingi tiga prajuritnya petinggi Desa Kemangiran ini, menolak keras keinginan pejabat kerajaan sekalipun didampingi dua Pangripta Warta.

Terlebih mereka bermaksud menghadapkan secara paksa Kiageng Wanabaya, yang juga disebut Kiangeng Mangir, kepada Raja Mataram, Panembahan Senapati.  Penghuni wilayah ini menilai Mangiran atau Mangir merupakan perdikan merdeka. Tak harus tunduk kepada kerajaan manapun.  

Untuk itu pula ketika petinggi Mataram dengan didampingi dua orang pengolah berita, bisa disebut Jurnalis, tetap ngotot menggunakan kekuasaannya, ditolak mentah-mentah oleh warga Mangir. Bagi orang Mangiran, wilayahnya adalah tlatah  yang punya otonomi. Tak harus tunduk pada kekuasaan kerajaan manapun, pula terhadap Mataram.

“Mangir adalah bagian dari Mataram, Kiageng Wanabaya harus tunduk kepada Raja Mataram,” tegas Tumenggung Alab-alab.

“Kami dari wilayah bebas memiliki aturan sendiri, dan tak perlu tunduk kepada Mataram,” sergah Demang Bantul menimpali gertakan sang Tumenggung. “Kami juga tak butuh wartawan, karena Mangiran tak peristiwa yang perlu diliput,” tambahnya dengan nada tinggi.

“Sampeyan tidak boleh melarang kami meliput, karena tanpa wartawan daerah ini bakal sering terjadi pelanggaran,” tegas seorang Jurnalis sambil sesekali membidikan kameranya.

“Wartawan meliput juga dilindungi undang-undang, jadi tak boleh dihalang-halangi,” timpal Tumenggung membela karib perjalanannya.

Sedangkan undang-undang (UU) yang menjadi payung hukum wartawan, urai pria berdarah biru itu, adalah UU nomor: 40 tahun 1999 tentang Pers. Kemudian diperkuat pula dengan UU nomor: 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.

“Jadi kalau Sampeyan melarang wartawan meliput daerahmu, sama halnya melanggar undang-undang,” tegas pria berbusana pejabat keraton tersebut.  

Baca Juga :   Ganti Rugi Petani Masuk Tahap Negoisasi

Daerah yang tertutup untuk wartawan, tambah Tumenggung Alab-alab, bakal terjadinya penyimpangan pemerintahan, rawan korupsi, dan pelanggaran hukum lainnya. Tugas wartawan adalah memberi kontrol kepada pemerintah, agar bisa berjalan dengan baik, terbuka pada publik, dan demokrasinya juga akan berkembang.

Demikian skuel dari lakon Wanabaya Lena yang dipentaskan Ketoprak Krido Madyo Budoyo dari Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pentas di area GOR Wado itu menyambut 40 Pimpinan Redaksi (Pemred) dari wilayah Jawa Timur peserta Lokakarya Media yang digelar SKK Migas Jabanusa dan KKKS PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Kamis-Jumat (16-17/3/2016).

Lakon berlatar awal berdirinya Mataram, setelah runtuhnya Demak Bintoro, itu digarap apik oleh kelompok seni tradisi pimpinan Kepala Desa Wado, Kasdi. Kolaburasi Jurnalis yang diramu dalam lakon yang terserat dalam Babat Tanah Jawi itu, mengundang perhatian lebih dari 750 warga.

Pranata gamelan yang mengiringi demikian rampak. Tetabuhan gamelan bergenre Pelok, dan Slendro begitu tergarap saling mengisi. Anak-anak dan orang tua larut dalam ritme tetabuhan. Emosi jiwa mereka terombang-ambing dalam aroma perhelatan di malam tak berbintang.

Panggung dengan properti mewah bermotif suasana desa, dipadu ukiran khas Jawa demikian memikat. Lighting panggung diatur demikian pas dengan setiap babak lakon pertunjukan.

Para jurnalis gaek yang menikmati perhelatan begitu puas. Pun mafhum akan pesan tentang kinerja jurnalis yang benar, dari dialok pelaku seni asal desa ring satu dari Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPJG) yang masuk dalam Central Procesing Plant (CPP) Gundih tersebut.

Baca Juga :   Dugaan Korupsi Mobil Siaga Desa, Kejaksaan Bojonegoro Periksa 3 Orang PT SBT

“Mereka menguasai persoalan tentang kinerja kita,” ucap Abdul Khohar, Pimred media online Blok Bojonegoro.

Entah apa yang bergelayut di benaknya. Mata lelaki berwajah tirus asal desa tepian sungai Bengawan Solo di wilayah Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur ini tak berkedip, menikmati setiap jengkal raga gemulai enam penari Gambyong di awal perhelatan.  

“Sungguh pementasan yang menggairahkan, dan sarat akan pesan,” tambahnya seraya membuang asap rokok dari celah bibirnya yang hitam.

Ketoprak Krido Madyo Budoyo, menurut Kasdi, merupakan kelompok seni tradisi khas desanya yang dibina oleh Pertamina EP Asset 4 Field Cepu. Perkembangannya demikian pesat karena warga Blora masih menggandrungi seni tersebut sebagai hiburan rakyat.

“Kami juga sering diundang pentas kemana-mana oleh Pertamina, kami juga dibukakan wawasan tentang pentingnya berkesenian,” kata Kasdi disela-sela pentas di belakang Kantor Desa Wado tersebut.

“Perusahaan tak meninggalkan perkembangan seni tradisional dan kebudayaan dari daerah sekitar operasi,” kata Field Manager Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Agus Amperianto.

CPP Gundih bisa berjalan dan berkembang, diakui Agus, juga atas dukungan warga terdekat. Tentunya termasuk warga Desa Wado dengan seni tradisi ketopraknya.

Dan peperangan antara prajurit Mataram melawan aparat keamanan Mangir yang melibatkan dua Jurnalis pecah. Mereka baku hantam atas alasan masing-masing. Sejarah pun mencatat Mataram baru bisa menaklukan Mangir, setelah Retno Pembayun putri Panembahan Senopati dinikahkan dengan putra Kiageng Wanabaya. (rakai pamanahan)  

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *