SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Pengembangan kilang PT Trans Pasific Petrohemical Indotama (TPPI) Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, belum berjalan sesuai rencana. Dalam pengembangan kilang pun harus menunggu instruksi pertamina terlebih dulu.
Padahal Presiden RI, Joko Widodo, saat kunjungannya di TPPI beberapa waktu lalu, memproyeksikan lokasi tersebut menjadi sentra industri kimia se-Tanah Air.
“Belum ada instruksi dari Pertamina,” kata General Manajer PT TPPI, Masputra Agung, ketika dikonfirmasi Suarabanyuurip.com, melalui pesan elektronik, Jumat (15/4/2016).
Dia menilai pengembangan kilang terkendala soal kepemilikan saham Pertamina. Idealnya Perusahaan milik Negara tersebut, harus memiliki saham lebih banyak di TPPI. Apabila belum terealisasi planing pengembangan masih sulit terwujud.
“Kabarnya akhir tahun 2016 saham TPPI akan sepenuhnya dikuasai Pertamina,” imbuh Masputra.
Meskipun beberapa waktu lalu pernah dilakukan study lokasi, namun karena ada problem finansial akhirnya pengembangan dibatalkan oleh pemegang saham lama.
Sementara, Direktur Utama Pertamina, Dwi Soecipto, serupa dilansir di beberapa media Nasional mengatakan, saat ini Pertamina telah resmi menambah kepemilikan sahamnya di TPPI Tuban, dari 26,61 persen menjadi 48,59 persen.
Akuisisi ini dilakukan dengan membeli seluruh saham TPPI dari Argo Capital BV. “Ketika dijumlah dengan saham milik PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), maka saham Pertamina lebih dari 70 persen,” imbuh Dwi.
Kepemilikan saham besar tersebut, Pertamina berharap dapat mengendalikan operasional kilang TPPI. Sekaligus meningkatkan produksi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kilang tersebut diproyeksikan untuk memproduksi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri.
Kalkulasinya dengan memproduksi 80 ribu barel per hari (Bph), kilang TPPI mampu mengurangi impor BBM hingga 10 persen. Pengurangan impor ini bisa menghemat devisa, sekaligus mampu memperkuat nilai tukar rupiah.
“Optimalnya operasi TPPI harus menguntungkan Negara,” harapnya.
Tercatat, per hari Pertamina masih harus mengimpor BBM sebesar 700 ribu barel untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan dolar untuk melakukan impor BBM tersebut sangat besar, mencapai US$ 70 juta – US$ 80 juta per hari.
Jika kilang TPPI bisa berproduksi penuh, kebutuhan dolar Pertamina untuk mengimpor BBM bisa berkurang hingga US$ 8 juta per hari. Diketahui kilang milik TPPI tersebut telah diambil alih oleh PT Pertamina sejak tahun 2015 lalu. (Aim)