SuaraBanyuurip.com –
Menjadi pemburu Ular tak harus berorientasi materi. Husni Habibie Ridho (25 tahun) justru berburu ular demi menjaga kelestarian ekosistim alam.‬ Sehingga hewan melata tidak punah, dan tetap bisa lestari untuk kedepannya.
Seekor Ular Weling terlihat begitu jinak melingkar dilengan Husni (Sapan akrab Husni Habibie Ridho). Dengan lembut pemuda berambut ikal itu mengusap-usap kepala ular berbisa itu.
“Binatang sebuas apapun jika diperlakukan dengan kasih sayang akan bersikap lembut pada kita,” ucap Husni, kepada Suarabanyuurip.com saat mengawali membuka kisahnya sebagai pemburu Ular.
Ular yang baru dikeluarkan dari kotak kayu yang menumpuk di belakang rumah itu adalah satu dari delapan ‘koleksi’ Husni. Hampir semua binatang melata itu ganas dan memiliki bisa mematikan.
Ular – Ular itu hasil berburu Husni dari berbagai daerah dan hampir semuanya terluka baik di kepala maupun dibadan. Tidak heran jika ular koleksi itu masih cukup ganas.
“Penyebab lukanya macam-macam. Bisa karena luka bertarung dengan sesama ular atau dengan binatang buas lain, bisa juga karena dipukul manusia,” tutur warga Desa Siman, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur itu.
Husni mendapatkan ular- ular yang terluka itu dari berburu langsung atau menangkap ular yang kebetulan ‘nyasar’ kepemukiman warga.
Oleh Husni, ular yang terluka itu dengan telaten di pelihara dan dirawat luka-lukanya hingga sembuh. Waktu perawatan dua minggu hingga dua bulan sampai luka ditubuh ular sembuh benar.
Pemuda yang tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika Surabaya ini ular liar yang sudah sembuh itu kemudian di lepaskan kembali ke alam bebas.
“Biasanya saya melepaskan ular ke hutan yang masih alami. Yang paling sering saya melepasnya di Hutan Cangar dikaki gunung Welirang, Mojokerto,” kata Husni yang sering diundang menangkap ular nyasar dipemukiman warga selama tinggal di Surabaya ini.
Baginya ada kepuasan yang tak ternilai materi saat berhasil melepaskan ular kembali ke habitatnya. Dengan mengembalikan ular hidup liar di alam akan menjaga kelestarian lingkungan.
Berburu ular bukan tanpa resiko. Paling fatal nyawa taruhannya. Meski demikian Husni mengaku tidak membekal ilmu apapun untuk menjadi pemburu ular layaknya pawang ular. Kebisaanya berburu ular hanya bondo nekad dan insting membaca naluri ular.
“Pengalaman paling berkesan, saat mata saya di sembur bisa ular kobra. Lebih dari satu minggu saya tidak bisa melihat. Alhamdulilah tidak sampai buta,” kenangnya.
Bergelut dengan dunia ular sejak tahun 2002. Husni mengaku sudah banyak paham berbagai jenis ular khususnya ular yang berada di pulau jawa. Saat ini dirinya tengah menyusun buku tentang ragam jenis ular.
Selain itu sejak tiga tahun terakhir ini dirinya juga memanfaatkan bekas sisik ular yang berganti kulit untuk media lukisannya. Dirinya juga banyak menuangkan tema ular sebagai obyek lukisannya. Dari hasil menjual lukisan itu menurutnya dimanfaatkan untuk membiayai ‘petualangan’ nya berburu ular dan merawat ular untuk dikembalikan kehabitatnya.
“Saya tidak pernah dan tidak berminat untuk menjual ular berapapun mahal harganya,” ungkapnya. (Totok Martono)