Mengenal Barong Thir Thur Laskar Sogok Thungtheng

SuaraBanyuurip.com - 

Paduan antara seni barongan dan seni-seni batik tulis karya siswa-siswi SMP Negeri 5 Blora, saat ini menjadi ikon sekolah tersebut dan bersiap untuk memeriahkan Word Dance Day di Surakarta.

Suarabanyuurip.com –

Kesenian Barong atau lebih dikenal dengan kesenian Barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Di wilayah Kabupaten Blora, yang dulunya kesenian rakyat yang satu ini lebih populer di pedesaan, saat ini telah merambah ke dunia sekolah. Dengan menjadi bagian dari ekstra kurikuler pelajaran kesnian.

Kesenian Barongan tersebut berbentuk tarian kelompok, yang menirukan keperkasaan gerak seekor Singa Raksasa. Dalam pementasannya juga dilengkapi beberapa perlengkapan yang berfungsi sebagai instrumen musiknya. Antara lain, Kendang,Gedhuk, Bonang, Saron, Demung dan Kempul.

Seperti di SMP Negeri 5 Blora. Dalam ekstra kurikulernya, terutama dalam bidang kesenian, menjadikan seni Barongan sebagai ikon sekolah tersebut. Hampir setiap sore, para siswa dari sekolah itu berbondong-bondong mengikuti ekstra kesenian Barongan.  Tampak ceria dan penuh semangat terpancar dari wajah anak-anak yang sedang mengikutinya. Rasa lelah sekan telah terbalut sirna oleh keceriaan dan kesenangan mereka.

Baca Juga :   Bertaruh Nyawa Demi Kotoran Kelelawar

Di bawah bimbingan 7 orang guru , grup kesenian Barong Thir Thur Laskar Sogok Thungteng yang terbentuk pada 15 Agustus tahun lalu, langusng mengukuti kirab budaya yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten setempat. 

Menurut Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Blora, Fitrotun Khasanah, Kesenian Barong merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler di SMP Negeri 5 Blora. Tujuannya untuk melestarikan budaya daerah Kabupaten Blora agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang semakin modern.

Keunikan kesenian Barongan hingga berbeda dengan seni yang lain, adalah terletak pada kolaborasi dengan seni batik tulis karya para siswa sebagai ornament pada kesenian tersebut.

Selain itu, lanjut Upik, sapaan akrab Fitrotun Khasanah, unsur bunyi Thir dan Thur yang mendominasi ilustrasi musik Barong mengandung filosofi tersembunyi.

Bunyi Thir, menurut Upik, menggambarkan bahwa siswa itu harus fokus untuk berfikir. Sedangkan Thur, menggambarkan bahwa siswa itu harus bersikap jujur.

Sedangkan Sogok Thungtheng, lanjut dia, adalah sebutan simbol warna merah dan hitam yang mendominasi kostum pelaku seni barong.

“Yang menggambarkan kebersamaan dan keberanian masyarakat Blora,” kata wanita berkerudung ini.

Baca Juga :   Mencetak Uang dari Gedebok Pisang

Dia melanjutkan, ornamen batik pada kesenian barong merupaakan karya siswa siswi yang menjadi ikon SMP Negeri 5 Blora. “Karya seni ini merupakan kekayaan seni budaya Kabupaten Blora,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, pada tanggal 28 hingga 29 April tahun 2016, SMP Negeri 5 Blora mendapat kehormatan untuk berpartisipasi dan bakal menyuguhkan Seni Barong Thir Thur Laskar Sogok Thungteng. Dalam even bergengsi memperingati Hari Tari Dunia (Word Dance Day) Tahun 2016 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. 

“Alhamdulillah kami telah diberikan kesempatan untuk menyuguhkan Seni Barong Thir-Thur ini di ISI Surakarta. Semoga dapat bermanfaat dan menambah semangat bagi semua tim untuk melestarikan budaya daerah ini tetap jaya selamanya,” pungkasnya. (Ahmad Sampurno)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *