SuaraBanyuurip.com -Â
Oleh : D Suko Nugroho
GELIAT industri migas di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur telah melahirkan multiplier effect (efek berantai). Yang paling kentara adalah bisnis kuliner. Bisnis tata boga ini seperti jamur di musim penghujan yang tumbuh di mana-mana.
Warga beramai-ramai mendirikan usaha kuliner. Baik itu warga asli Bojonegoro, maupun investor dari luar daerah yang ingin menangkap peluang usaha dengan hadirnya para pekerja migas. Mereka pun memakai konsep berbeda-beda untuk menjaring para konsumen. Mulai dari menu masakan yang disajikan, tempat, hingga harga yang ditawarkan.
Kondisi itu terlihat ketika memasuki wilayah Bojonegoro bagian barat, beragam usaha kuliner berjejer di sepanjang jalan. Begitu juga di wilayah Timur Bojonegoro. Terlebih di dalam kota Bojonegoro beraneka macam kuliner mudah sekali dijumpai.
Meskipun belum ada data pasti tentang pertumbuhan kuliner di Bojonegoro, namun industri migas di Bojonegoro menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi Bojonegoro. Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro mencatat, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada tahun 2015, mencapai 19,47 persen. Angka ini melebihi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Melesatnya pertumbuhan ekonomi Bojonegoro disumbang terbesar dari pertambangan Blok Cepu (www.suarabanyuurip.com, tanggal 11 April 2016, berjudul Pertumbuhan Ekonomi Bojonegoro Melesat Melebihi Nasional).
Memang perlu diakui, hadirnya proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) 1,2, dan 5 Banyuurip, Blok Cepu, telah mengundang banyak tenaga kerja. Tercatat, ada sekira sepuluh ribu tenaga kerja yang terlibat di mega proyek yang dikendalikan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) tersebut. Terbanyak penyerapan naker adalah proyek EPC-1 sebanyak sekira enam ribu orang.
Dengan jumlah naker sebanyak itu, tentunya,menjadi peluang tersendiri bagi warga sekitar khususnya untuk memenuhi kebutuhan makan mereka seperti jasa catering maupun warung makan dan minuman di sekitar area proyek. Sedangkan bagi para pendatang dari luar daerah yang menginginkan jenis kuliner berbeda juga dapat dengan mudah mendapatkannya.
 Namun dengan menjelang berakhirnya proyek konstruksi pembangunan infrastruktur pengembangan penuh produksi puncak Banyuurip sekarang ini berdampak terhadap usaha kuliner ini. Banyak warung makanan dan minuman di sekitar proyek gulung tikar karena semakin berkurangnya naker yang menjadi pelanggan mereka.
Kondisi ini pun tentunya juga berimbas pada usaha kuliner di wilayah perkotaan Bojonegoro. Â Para pekerja yang sebelumnya menjejali sejumlah hotel di wilayah Kota Bojonegoro mulai angkat kaki seiring habisnya kontrak kerja mereka.
 Kondisi tersebut tidak bisa dielak. Karena di manapun setiap proyek memiliki masa kontrak pekerjaan. Setelah pekerjaan selesai, maka kebutuhan naker akan berkurang secara drastis mengikuti kebutuhan.
Bagaimana Agar Usaha Kuliner Tetap Hidup ? Â
Untuk membangun sebuah usaha kuliner ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Yakni permodalan, lokasi strategis, menu yang banyak dan unik, pemasok kebutuhan bahan baku, sumber daya manusia, target pemasaran, dan promosi.
Jika dicermati perkembangan kuliner di Bojonegoro tak lepas dipengaruhi oleh banyaknya pendatang (pekerja) migas. Perlu diketahui pula jika usaha kuliner merupakan ekonomi kerakyatan. Ekonomi ini akan tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi di sekelilingnya. Mulanya ekonomi kerakyatan ini tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun, atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, serta peluang pasar.
Namun perlu dipahami juga bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Memiliki modal yang besar, mempunyai akses pasar yang luas, menguasai usaha dari hulu ke hilir, menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. Namun mereka bukan digolongkan sebagai ekonomi rakyat karena jumlahnya terbatas.
Tapi tidak ada salahnya jika usaha kuliner yang menjdi salah satu simbol ekonomi kerakyatan ini mengadopsi atau dikolaborasikan dengan ekonomi konglomerat. Artinya, ekonomi konglomerat menopang ekonomi kerakyatan agar tumbuh bekermbang dan bertahan.
Caranya adalah dengan membangun sebuah pusat kuliner di ruang terbuka di tingkat kecamatan di sekitar industri migas. Namanya pusat, tentunya, di tempat ini harus berisi beragam jenis kuliner khas Bojonegoro maupun daerah lain. Dengan begitu konsumen dapat memilih makanan sesui selera mereka dengan mudah.
Di ruang terbuka, artinya pusat kuliner ini dibangun di tempat terbuka yang membutuhkan lahan yang cukup luas. Selain itu lokasinya juga harus strategis (mudah dijangkau), bersih, aman dan penerangan yang cukup. Dengan begitu masyarakat dapat menikmati makanan bersama keluarga dengan nyaman, dan bisa memarkirkan kendaraannya dengan mudah.
Untuk lebih menghidupkan dan menjaga keberlangsungan pusat kuliner terbuka ini, alangkah tepatnya bila juga dilengkapi dengan permainan anak-anak, juga perpustakaan untuk menambah wawaswan. Dengan adanya fasilitas ini akan menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat khususnya orang tua dari sejumlah desa di sekitar kecamatan yang menjadi lokasi pusat kuliner untuk datang mengajak anak-anaknya. Â
Terlebih selama ini belum ada tempat hiburan di Bojonegoro yang berada di tingkat kecamatan. Dengan begitu, masyarakat pedasaan tidak perlu lagi mencari hiburan di pusat kota Bojonegoro karena di kecamatan sudah tersedia. Selain itu, juga untuk menangkap peluang usaha dengan segera dimulainya proyek Unitisasi Gas Jambaran – Tiung Biru (J-TB) yang tidak kalah besar dengan proyek Banyuurip.
Namun untuk menyediakan lahan ini dibutuhkan sentuhan oleh konglomerat (investor). Karena sangat tidak mungkin jika para pengusaha kuliner ini menyediakan lahan sendiri baik secara patungan maupun membeli. Bisa juga, penyediaan tempat pusat kuliner disedikan oleh desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sehingga bisa menjadi asset desa yang dapat mendatangkan pendapatan desa, peluang usaha maupun kerja bagi masyarakatnya.
Selain itu, dengan adanya kawasan pusat kuliner ini juga bisa dijadikan sebagai ruang publik untuk sebuah tempat wisata kuliner yang dapat digunakan oleh masyarakat sebagai tempat strategis mengembangkan usaha dalam bisnis kuliner, juga sebagai tempat masyarakat berbelanja berbagai jenis varian makanan dan minuman.
Apa yang ditulis penulis ini hanya sebuah gagasan sederhana yang lahir dari sebuah impian untuk melihat tumbuhnya pemerataan ekonomi di tingkat desa yang selama ini belum diperoleh masyarakat pedesaan dengan adanya industri migas. Karena sudah saatnya Bojonegoro memiliki pusat kuliner terbuka seperti kota-kota besar di Indonesia.
Penulis adalah Wartawan Suara Banyuurip