SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Bojonegoro, Hawa Timur, menyampaikan, rencana pemerintah memberikan jaringan gas (Jargas) rumah tangga untuk masyarakat Bojonegoro terancam gagal.
“Informasi yang kami terima dari Dirjen Migas, jumlah masyarakat yang berminat jargas ini hanya sedikit. Dibawah 4000 rumah tangga,” kata Kepala seksi (Kasi) pertambangan dan migas Dinas ESDM, Dadang Aris, kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (10/5/2016).
Padahal, pemerintah menargetkan 4.000 Kepala Keluarga (KK) di Bojonegoro mendapat subsidi Jargas rumah tangga. Subsidi Jargas rumah tangga itu merupakan program pemerintah pusat dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2020 mendatang.
“Subsidinya cuma sebagai program awal, selanjutnya bayar sendiri. Tapi karena yang minat sedikit mungkin tidak jadi ada pemasangan,” ungkapnya.
Dari hasil survei konsultan yang ditunjuk Dirjen Migas, ada enam titik di Kecamatan Kota yang akan dipasang jargas. Enam titik itu adalah, Desa Sukorejo, Kelurahan Mojokampung, Kepatihan, Sumbang, Klangon, dan Kelurahan Kadipaten.
Pengembangan gas alam itu diambil dari jalur pipa gas Gresik-Semarang (Gresem) sepanjang 271 Km. Proyek pipanisasi ini untuk menjamin pasokan gas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Jargas rumah tangga ini sistemmnya mudah seperti aliran PDAM, pipa langsung masuk kedalam kompor,” ujarnya.
Sementara itu, Dwi Purwanti, warga Desa Sukorejo, mengaku takut menggunakan jargas ini. Karena rawan bocor dan berpotensi menyebabkan kebakaran.
“Apalagi cuma dikasih tahu manfaatnya saja, sosialisasinya kurang. Kita tidak tahu kekurangan sistem jargas ini seperti apa,” tandas ibu dua anak ini.
Sekadar diketahui, pipa gas Gresem tersebut memiliki kapasitas 500 milion standard cubic feet per day (MMSCFD). Proyek pipanisasi ini akan melewati empat Kabupaten/Kota di Jawa Tengah dan tiga Kabupaten di Jawa Timur.
Pipanisasi Gresem ini dimulai dari metering station Gresik Pertagas dan berakhir di Tambak Lorok. Pembangunan ruas pipa baru ini menelan biaya US$ 515,7 juta.
Selain itu, pertagas telah mendapat alokasi gas exxes dari Jawa Timur yang berasal dari Kangean dan Husky sebesar 30 MMSCFD ditahun 2016, dan pada 2019 Pertagas juga mendapat suplai gas Cepu Lapangan Tiung Biru dan Cendana sebesar  100 MMSCFD, dan potensi gas Cepu Lapangan Alas Tua sebesar 110 MMSCFD mulai tahun 2022. (Rien)