Potong 10% Seharga Fasilitas Blok Cepu

SuaraBanyuurip.com - 

Jakarta–  Terus mengingkatnya konsumsi energi secara nasional disikapi serius Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Untuk menekan peningkatan konsumsi tersebut, Kementerian ESDM gencar mengkampanyekan gerakan potong 10%.

Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) disebutkan, total kebutuhan energi nasional Indonesia akan mencapai 2,41 juta SBM (Setara Barel Minyak) pada tahun 2025 mendatang. Jumlah ini naik sekitar 84% dari total kebutuhan energi nasional pada 2013 yang hanya mencapai 1,243 juta SBM.

Saat ini, permintaan energi di Indonesia masih didominasi oleh energi fosil. Pada 2013, energi fosil menyumbang 94.6 persen dari total kebutuhan/konsumsi energi yaitu sebesar1.357 juta SBM. Sisanya, 5,5 persen dipenuhi dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Dari jumlah tersebut, minyak menyumbang 44,0%, gas alam 21,9%, dan batubara 28,7%. 

Sementara itu, hasil ekplorasi minyak di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan energi nasional. Pada 2013, total konsumsi minyak nasional mencapai 425 juta barel terdiri dari minyak mentah (crude oil). Dari jumlah tersebut, sebesar 352 juta barel (233 juta barel dalam bentuk bahan bakar minyak/BBM) yang dipasok dari kilang minyak di dalam negeri. Sisanya, sebesar 192 juta barel diimpor dalam bentuk minyak mentah dan produk BBM. Kondisi ini disebabkan turunnya produksi dan terbatasnya kapasitas kilang di dalam negeri. 

Baca Juga :   Premium Sulit, Pengecer Jual Pertamax

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, dengan melakukan potong 10% ini akan mengurangi konsumsi energy. Bahkan bisa menghemat seharga fasilitas Cepu yang mencapai USD1,3 miliar dan pembangunan jaringan listrik.

“Acara ini adalah melengkapi seluruh cycle dari pengelolaan energi nasional,” tegasnya seperti dilansir dalam siaran pers Kementerian ESDM.

Dijelaskan, kampanye ini merupakan bagian dari langkah Kementerian ESDM mendorong konservasi energi. Sudirman Said meyakini perubahan perilaku masyarakat mengenai penggunaan energi berdampak pada penghematan energi.

“Tidak cukup dengan itu, capaian ini juga dilalui lewat pemilihan teknologi modern,” tandasnya.

Menurutnya, ada tiga hal sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat melalui gerakan 3 M, yaitu mematikan, mencabut dan mengatur. Perilaku tersebut dinilai lebih efesien ketimbang membangun jaringan listrik.

“Kalau kita melakukukan kebiasaan-kebiasaan mudah, maka akan timbul 10% yang memberi manfaat besar sekali,” ucap Sudirman.

 Ia mengemukakan 10 persen memiliki nilai sama dengan fasilitas produktivitas minyak. “Sama dengan fasilitas proyek Cepu yang sedang kita resmikan nanti,” ujarnya.

Target utama gerakan potong 10% yakni merubah perilaku masyarakat secara masif dan berkelanjutan. “Yang namanya perilaku itu tidak bisa cepat. Kita akan sepanjang tahun mengampanyekan,” katanya Sudirman.

Baca Juga :   JOBP-PEJ Nunggak PBB 7 tahun

Ia merasa pembangunan Wilayah Timur Indonesia harus segera dikebut demi pendistribusian listrik yang tepat kepada masyarakat. Sudirman menilai selama ini kondisi listrik di Wilayah Timur Indonesia sangat memperhatinkan. Makanya, ia mengajak masyarakat untuk tidak terlalu boros terhadap penggunanan energi.

Kampanye potong 10% akan berlangsung di 20 kota besar di seluruh Indonesia. Ajakan ini tidak hanya terbatas pada golongan tertentu saja. Dalam kampanye melibatkan lapisan masyarakat mulai dari ikatan guru se-Indonesia, komunitas sepeda onthel, hingga penggerak pramuka.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *