SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Bojonegoro – Warga Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menggelar sedekah bumi (nyadranan-red) di Pesarean (makam) Setoyudo, Minggu (22/5/2016).
Ramijan, sesepuh desa setempat, menuturkan, acara sedekah bumi di Pesarehan Setoyudo ini dilakukan warga setiap setahun sekali, tepatnya pada hari Minggu Pahing.
“Sedekah bumi ini untuk nguri-uri peninggalan leluhur agar tidak punah tergerus perkembangan zaman,” kata Ramijan, di temui Suarabanyuurip.com di rumahnya, Minggu (22/5/2016) seusai perhelatan bernuansa religi tersebut.
Sesepuh yang telah berusia 78 tahun ini, menjelaskan, maski tidak banyak yang tahu sejarah Punden Setoyudo, masyarakat tetap antusias melakukan ritual setiap tahunnya.
“Sebagai generasi penerus leluhur tentu dalam acaranya mengikuti adat tata cara terdahulu pula. Selain membawa ambeng juga menanggap Wayang Kulit di lokasi Pesarehan Setoyudo tersebut,” ungkapnya.
Gelaran wayang kulit yang harus dilakukan dua kali. Yaitu di lokasi sedekah bumi pada siang harinya dan di rumah kepala desa saat malam hari, dan hari bersifat wajib juga untuk dilaksanakan dan dipatuhi. Sebab, jika dilaksanakan pada hari yang berbeda, maka diyakini akan ada kejadian musibah.
“Pada zaman kepala desa pada periode dulu, pernah hari sedekah bumi diganti. Ternyata, seketika terjadi keanehan yaitu saat sajian (bancakan) dikerumuni ribuan semut sebelum acara dilaksanakan,” ujarnnya menjelentrehkan.
Makam yang dipercaya masih bersaudara dengan Mbah Janjang yang ada di Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah tersebut, marupakan makam sesepuh sejak zaman penjajahan Belanda.
“Bahkan bisa dikatakan sejak Zaman Kerajaan,” kata Pria kelahiran 1938 ini.
Selain hari dan pertunjukan wayang kulit, memilih lakon yang dibawakan dalam pertunjukan wayang kulit juga harus berhati-hati memilihnya. Artinya jangan sampai bernuansa tidak baik. Karena bisa berpengaruh pada situasi dan kondisi desa setempat. Hanya saja tidak ada permintaan lakon secara khusus.
“Ceritanya dulu pernah ada dalang yang membawakan lakon Anoman Obong. Kemudian tidak lama berselang usai sedekah bumi, terjadi kebakaran dibeberapa tempat. Baik kebakaran hutan maupun rumah warga, dan kejadian buruk lainnya,” kata Hadi Suyitno yang juga tokoh masyarakat setempat.
Dari beberapa pengalaman tersebut, pada tahun ini, gelaran wayang kulit yang akan dilaksanakan malam ini di kediaman Kepala Desa Wonocolo, Seti akan mengambil lakon “Balike Joyo Anggodo” (Kembalinya ke Zaman kejayaan).
“Karena sudah ada cerita itu, maka sekerang setiap setahun sekali harus berhati-hati memilih lakonnya,” pungkas Pak Yosi sapaan akrab Hadi Suyitno.
Dari pantauan, terdengar suara gamelan dan nyanyian sinden, mengiringi wayang kulit siang tadi menyedot perhatian masyarakat sekitar untuk menyaksikannya.
Pengunjung tampak berjubel memadati area makam Setoyudo menyaksikan pagelaran wayang kulit sebagai sajian wajib sedekah bumi. Di kanan dan kiri jalan menuju makam tersebut, juga dipadati para pedagang yang menjajakan dagangannya. (Ams)