SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – PT Sumber Petrindo Perkasa (SPP) matikan aliran gas yang dibeli dari Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, untuk kebutuhan pembangkit listrik Tambaklorok Semarang, Jawa Tengah. Dimantikannya aliran secara sepihak, sontak mendapat tanggapan serius dari Pertamina lantaran dianggap melakukan tindakan ceroboh dan arogan.
Karena berpotensi membahayakan objek vital (Ovit) Nasional. Utamanya sumur-sumur gas yang tersebar di wilayah Blok Gundih.
Hebrian Indratama, Legal and Relation PT SPP, menjelaskan, bahwa pada hari Kamis (9/6/2016) sekitar pukul 10.00 WIB kemarin, PT SPP mematikan aliran gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Tambaklorok Semarang.
“Sudah mengalir lagi dari kemarin,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Jum’at (10/6/2016).
Dia beralasan, gas yang diterima oleh PT SPP dari Centra Processing Plant (CPP) PPGJ ternyata offspec. Hal itu dianggapnya wajar untuk setiap operasional.
“Kemarin kita hentikan alirannya. Soalnya gas yang kita terima offspec,” ujarnya.
Dia menandaskan, bahwa itu normal dalam operasi. Pasti ada kendala dan suksesnya. “Itu cuma butuh waktu pemulihan beberapa jam saja,” jelasnya.
Sementara, Field Manager Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Agus Amperianto, menampik tuduhan dari SPP. Jika gas yang dialirkan CPP
PPGJ ke PT SPP adalah offspec.
“Pembacaan offspec yang disampaikan oleh SPP adalah tidak benar,” ucap Agus.
Pasalnya, menurut Agus, pada hari yang sama tim dari Pertamina EPÂ menggunakan H2O Analyzer disaksikan oleh petugas SPP. Hasilnya kandungan impurities hanya +/- 2 lb/mmscf. Artinya tidak ada yang salah dalam spec gas yang masih jauh di bawah ambang batas sales yang diizinkan.
“Khususnya sejak pagi (SPP closed valve) hingga waktu dimana SPP menyadari kekeliruannya, dan membuka kembali sales valve pada pukul 14.58 WIB,” jelasnya..
“Pembacaan H2O analyzer pasti akurat. Karena callibrated, errornya sangat kecil,” lanjut Agus.
Pihaknya menganggap tindakan sepihak yang dilakukan SPP sangat merugikan. “Kami akan tetap menghitung gas yang tidak ter-sales kemarin. Kami harus bean-down. Tetap pemakaian SPP dan prosedur PJBG-nya (Perjanjian Jual Beli Gas) Â kami hitung/catat,” jelasnya.
Agus menganggap, tindakan Manager Plant sebagai tindakan sembrono atau ceroboh dan arogan.
“Sembrononya Plant Manager SPP  berpotensi membahayakan kelangsungan obvit yang bisa merugikan konsumen industri dan masyarakat,” tegasnya. (Ams)