SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur,  menghimbau seluruh masyarakat untuk mewaspadai fenomena La Nina mulai bulan Juli hingga Oktober 2016. Sebab dalam kurun waktu tersebut, jumlah curah hujan di seluruh wilayah Jatim cenderung meningkat dibandingkan jumlah normalnya.
“Sesuai data BMKG Klas 1 Juanda Surabaya mulai bulan Juli 2016 Jatim memasuki musim kemarau,†kata Sekretaris BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada Suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (10/6/2016).
Pada bulan Juli sampai Oktober 2016, perairan sekitar Jatim cenderung hangat. Hangatnya suhu muka laut, mengakibatkan suplai uap air bertambah. Sehingga dapat memicu terjadinya pembentukan awan-awan rendah penyebab hujan.
Hujan diprakirakan masih terjadi bulan Juli 2016. Jumlah curah hujan selama sebulan kisaran 0 sampai 200 Milimeter (mm).
Beberapa wilayah Jatim juga mengalami curah hujan berbeda kisaran 151 sampai 200 mm. Sesuai surat edaran BMKG Jatim bernomor KT.304/538/MJUD/VI/2016, terjadi di Lumajang bagian barat, Malang bagian selatan, Trengggalek bagian selatan, dan Banyuwangi.
“4 daerah tersebut memiliki intensitas hujan berbeda dibanding daerah lain,†imbuh Joko.
Menurut penghitungan BMKG pusat, meluruhnya El Nino menjadi normal membawa kondisi Indonesia pada musim transisi. Terbukti angin Munson timuran mulai menguat sejak awal bulan Juni 2016.
Soal peluang fenomena La Nina, BMKG memprediksi hanya berlangsung tiga bulan. Â Mulai bulan Juli sampai September 2016. Bersamaan itu pula ada fenomena Dipole Mode Negatif.
Dimana kondisi suhu muka laut di bagian Sumatera, lebih hangat dibandingkan suhu di pantai timur Afrika. Sehingga menyebabkan tambahan pasokan uap air yang meningkatkan curah hujan wilayah Indonesia bagian barat.
“Indeks Dipole Mode diprediksi menguat bulan Juli sampai September memicu bertambahnya potensi curah hujan di pulau Jawa,†tambahnya.
Kondisi ini pula berakibat beberapa daerah mengalami kemarau basah. Serta periode musim hujan yang berpotensi banjir.
Pihaknya juga menjelaskan soal dampak positif dan negatif dari La Nina ini. Di antaranya hangatnya suhu muka laut meningkatkan populasi ikan Tuna. Tapi kurang menguntungkan bagi petani garam. Sedangkan di sektor pertanian, akan bertambah luas lahan tanam dan produksi padi. Tetapi perlu diwaspadai munculnya serangan hama pada kondisi tanah yang lembab.
“Selain itu juga akan menurunkan produksi tembakau, tebu, teh, serta tanaman holtikultura lainnya,†pungkasnya.(aim)