SuaraBanyuurip.com –Â Ali Imron
Tuban – Hujan lebat yang mengguyur sebagian wilayah di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sejak pukul 17:00 WIB hingga pukul 20:30 WIB, telah menggenangi pemukiman warga di dua kecamatan. Terpantau genangan air sudah memasuki rumah warga di Kecamatan Jatirogo, dan Kenduruan.
“Jumlah rumah yang tergenang belum tercatat tim masih menuju lokasi,” kata Sekretaris BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu, 18 Juni 2016.
Saat ini dari 20 kecamatan yang paling terdampak hujan lebat baru dua kecamatan. Untuk kecamatan lainnya belum ada laporan dari Muspika setempat.
Ketika ditanya soal penyebab genangan banjir tersebut, pihaknya belum dapat menjelaskan detail. Tetapi dugaan kuat dampak luapan Sungai Kening yang menghubungkan beberapa kecamatan di Tuban bagian selatan.
“Sore tadi sungai di Kecamatan Jatirogo meluap dan menggenangi rumah warga sekitar,” imbun Joko.
Pihaknya menjelaskan, sesuai intruksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jatim, seluruh tim BPBD mulai bulan Juni 2016 harus mewaspadai bencana tanah longsor, banjir dan puting beliung.
Penyebabnya, timbulnya bencana Hidrometerologi yaitu bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca dan iklim seperti banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, dan gelombang pasang.
“Tercatat 95 persen bencana di Indonesia masuk kategori Hidrometeorologi,” jelasnya.
Secara Nasional dalam kurun waktu 6 bukan dalam tahun 2016 telah terjadi 1.053 kejadian bencana di Indonesia. Akibatnya 157 orang meninggal dunia dan lebih dari 1,7 juta jiwa menderita dan mengungsi.
Ratusan ribu rumah rusak akibat bencana. Bencana banjir mendominasi kejadian bencana yaitu 429 kejadian, puting beliung 310 kejadian, dan longsor 255 kali kejadian. Tercatat 142 orang meninggal akibat banjir dan tanah longsor.
Dalam kondisi normal semestinya sebagian besar wilayah Indonesia memasuki awal musim kemarau. Pertengahan bulan Juni umumnya sudah kemarau, namun saat ini hujan berintensitas tinggi masih sering turun.
“Fenomena La Nina diperkirakan baru terdeteksi pada Juli, Agustus dan September 2016,” bebernya.
Pihaknya memproyeksikan kondisi ini berimbas pada meningkatnya hujan selama musim kemarau. Dimana musim kemarau mendatang adalah musim kemarau basah. Artinya selama musim kemarau curah hujan masih sering terjadi.
Ada dampak positif dan negatif dari fenomena La Nina tesebut. Dampak positif adalah kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan tidak akan parah. Produktivitas pertanian khususnya padi, jagung dan palawija akan meningkat karena pasokan air tetap tersedia.
“Produksi listrik dari PLTA tidak akan banyak masalah karena debit sungai dan hujan masih cukup memasok waduk, danau dan bendungan,” tandasnya.
Sedangkan dampak negatifnya adanya potensi banjir, longsor dan puting beliung akan tetap tinggi selama kemarau. Pertanian khususnya tembakau dan bawang merah akan terdampak akibat hujan selama musim kemarau.
Sesuai peringatan dini dari BMKG potensi hujan lebat terjadi sejak tanggal 17 Juni sampai 20 Juni 2016. Potensi hujan lebat hampir merata di seluruh Indonesia tak terkecuali Jatim.
Pihaknya berharap masyarakat siap menghadapi masa transisi semacam ini. Baik masyarakat pesisir pantai, perkotaan, maupun di kecamatan. (Aim)