SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Menjelang hari raya idul fitri dimanfaatkan sebagain masyarakat untuk mengais rejeki melalui penyedia jasa penukaran uang. Seperti yang terjadi dibeberapa ruas Jalan Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Namun banyak warga kerap menanyakan soal keaslian uang pecahan yang ditawarkan oleh penyedia jasa penukaran uang.
Meskipun uang tersebut langsung didatangkan dari Bank Indonesia (BI), tak sedikit masyarakat yang tidak mempercayainya. Seperti yang dialami oleh Gondrong, salah satu penyedia jasa penukaran uang yang mangkal di Bumi Wali (sebutan Tuban) tersebut.
Gondrong, mengaku, kerap mendapati pertanyaan warga tentang keaslian uang pecahan yang ditawarkannya. “Saya jamin uang pecahan ini asli,” kata Gondrong (40), kepada Suarabanyuurip.com, ketika di temui di Jalan Basuki Rahmat Tuban.
Apabila masyarakat meragukannya, dipersilahkan untuk mengecek langsung menggunakan alat pendeteksi uang atau semacamnya. Kondisi tersebut baginya sudah biasa setiap bulan Ramadan tiba. Kekhawatiran masyarakat soal keaslian uang bukan di Tuban saja, melainkan hampir di setiap Kabupaten/Kota di Indonesia mengalami hal serupa.
Gondrong, mengaku, sudah banyak mendapat caci maki, bahkan tudingan soal uang pecahannya. Tetapi berbekal kesabaran, dan ketekunan hampir setiap hari dirinya masih mampu menghabiskan uang pecahan Rp 8 juta.
“Masih banyak juga yang percaya dengan jasa ini,” imbuh pria yang sudah 7 tahun menggeluti jasa penukaran uang itu.
Kesulitan lain yang dialaminya, ketika konsumen menawar biaya tukar. Padahal biaya tukar uang pecahan Rp 100 ribu, sudah dipatok Rp 10 ribu. Tetapi masyarakat dari berbagai kalangan penawarannya kerap di bawah standar harga.
“Kadang jengkel sebab ditawar cuma Rp 5 ribu untuk penukaran Rp 100 ribu,” ungkap warga asli dari Kecamatan Semanding, Tuban itu.
Setiap penukaran uang Rp 100 ribu, hanya memperoleh upah Rp 2.500. Sehingga setiap hari minimal harus berhasil menukar di atas Rp 5 juta. Jika tidak mampu menghabiskan uang penukaran senilai itu maka pendapatan yang diperoleh juga tidak maksimal.
Selain itu, kalau terget tersebut tidak berhasil, otomatis jatah makan keluarga harus dikurangi. Sehingga tidak menambah beban hutang keluarga selama bulan puasa. “Kalau hasil yang saya dapat jelas tidak menentu. Melihat dari banyaknya warga yang menukar uang. Tetapi, rata-rata hasil keuntungan yang saya peroleh adalag Rp 200 ribu,†ucapnya.
Bersama dua rekannya, tahun ini Gondrong memutuskan membuka lapak di Jalan Basuki Rahmat. Timnya mulai buka sejak pukul 08:00 WIB sampai 17:00 WIB. Tetapi kadang pulang lebih awal atau sebaliknya, menyesuaikan antusias masyarakat menukar uang pecahan.
Jenis uang pecahan yang disediakannya ada tiga macam, mulai Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, hingga RP 10 ribu. Untuk biaya tukar sama yakni Rp 10 ribu per Rp 100 ribu. Biasanya biaya tukar akan naik 5 persen menjadi Rp 15 ribu, ketika mendekati lebaran.
“Menjelang H-7 sudah naik Rp 15 ribu, sebab ongkos pengiriman dari Jakarta naik dan membutuhkan waktu lebih untuk sampai di Tuban,” ungkapnya.
Pihaknya mengaku setiap kali berangkat, setiap orang membawa uang Rp 60 juta. Sehingga total ada Rp 180 juta yang disediakan untuk masyarakat setiap harinya. “Intinya kami bekerja dan tidak merugikan orang lain itu saja, Mas. Berapapun hasil yang kami dapat tetap kami syukuri,†unjarnya.
Sementara, salah satu penukar uang asal Kecamatan Montong, Budi, mengaku tidak khawatir soal beredarnya uang palsu di jasa penukaran uang. Pihaknya optimis dengan uang pecahan itu, sebab sebelum menukar pihaknya dapat mengecek langsung.
“Kalau ada yang palsu saya tidak segan melaporkan ke polisi,” pungkasnya.
Diketahui, selama bulan Ramadan banyak penyedia jasa penukaran uang dadakan di Tuban. Rata-rata mereka berasal dari luar kabupaten, dan memadati trotoar di sepanjang Jalan Basuki Rahmat, dan Jalan Sunan Kalijaga Tuban. (Aim)