SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, hingga kini belum melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) vaksin palsu yang dikabarkan sudah beredar di tiga provinsi. Sidak tersebut sesuai instruksi dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahyo Kumolo, bahwasanya seluruh Pemerintah Daerah (Pemda) harus melakukan Sidak.
“Iya, ada instruksi untuk Sidak terhadap seluruh fasilitas kesehatan yang ada di daerah masing-masing,†kata Kepala Dinkes Tuban, Saiful Hadi, kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (1/7/2016).
Dia menjelaskan, instruksi Mendagri tersebut, sebagai langkah antisipasi peredaran vaksin palsu yang meresahkan masyarakat. Apabila perlu Sidak akan kami lakukan, namun pihaknya menjamin jika fasilitas kesehatan di Kabupaten Tuban aman dari peredaran Vaksin tersebut.
“Vaksin yang ditemukan daerah Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, tidak beredar di Tuban,†imbuh Saiful.
Pihaknya meminta masyarakat Tuban tidak perlu resah dengan adanya pemberitaan vaksin palsu. Pemda memastikan vaksin yang berada di Rumah Sakit (RS), Puskesmas, Dokter spesialis anak, bidan praktek, dan fasilitas kesehatan swasta 100 persen aman. Â
Sebab selama ini fasilitas kesehatan tersebut mengambil vaksin, dari Dinas Kesehatan  yang diproduksi Biofarma, sehingga keaslianya dapat dipertanggungjawabkan.
Sebelum Sidak pihaknya akan melakukan sosialisasi, terkait berita peredaran vaksin melalui puskesmas dan rumah sakit.
“Khusus ibu yang memiliki anak, tidak perlu khawatir berlebihan karena vaksin yang diberikan anaknya aman,†tandasnya.
Terpisah, seorang ibu asal Kecamatan Kerek, Novia (32), sempat resah dengan beredarnya berita vaksin beberapa hari terakhir. Sebab ada rasa kekhawatiran apabila vaksin yang diberikan anaknya termasuk vaksin palsu.
“Sempat khawatir kalau vaksin yang diberikan palsu, tapi kalau Tuban aman kami bersyukur,†sambungnya.
Diketahui, saat ini Bareskrim masih melakukan penyelidikan terhadap sindikat pemalsuan vaksin. Informasi sementara vaksin palsu tersebut telah diproduksi sejak tahun 2003.
Sementara, Penyidik baru menemukan barang bukti vaksin palsu di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.(Aim)