SuaraBanyuurip.com –Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Operator Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB) Pertamina EP Cepu berharap pemerintah menanggung selisih harga gas dari Unitisasi Lapangan Jambaran-Tiung Biru (J-TB).
“Ya, kita minta pemerintah yang menyelesaikannya. Jadi, bisa menyelesaikan proses negosiasi jual-beli gas dengan PT Pupuk Kujang,” ujar Public and Government Affair Manager PEPC, Abdul Malik, Jum’at (1/7/2016).
Sebelumnya, patokan harga gas Tiung Biru US$ 8 eskalasi dua persen per million metric british thermal unit (MMBTU) sesuai dengan Plan of Development (PoD) yang sudah disetujui oleh pemerintah.
Sementara, PT Pupuk Kujang menginginkan harga yang lebih rendah, yaitu US$ 7 per MMBTU.
“Kalau dibantu pemerintah dengan melakukan kompensasi kekurangan harga dari PT Pupuk Kujang Cikampek untuk membeli gas bisa jadi salah satu solusinya,” imbuhnya.
Apabila hal itu tidak bisa dilakukan, cara lain adalah memberikan opsi kepada PT Pupuk Kujang untuk mencari sumber lain pasokan gas dari lapangan yang berbeda.
“Apalagi ada tenggang waktu dua tahun, antara produksi J-TB dengan mulainya PT Pupuk Kujang beroperasi,” tukasnya.
Dari informasi yang didapat, terdapat perjanjian apabila PT Pupuk Kujang tidak mampu menyerap gas Tiung Biru maka Pertamina bersedia menyerap alokasi Pupuk Kujang.
Disinggung terkait itu, Malik enggan membeberkan lebih lanjut. Hanya saja saat ini Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) masih terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menemukan jalan keluar terbaik.(Rien)