JOB P-PEJ Diminta Tingkatkan Sarana EWS

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, meminta operator Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ) untuk meningkatkan sarana Early Warning Sistem (EWS) di sekitar wilayah Sumur Mudi.

Rekomendasi tersebut sebagai tindak lanjut Pemerintah Daerah (Pemda), merespon membesarnya flare Tapak Sumur (PAd A) Mudi, di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, pada tanggal  29 Juni 2016 lalu.

“Sistem EWS harus ada seperti pos pemantau dilengkapi peralatan komunikasi,” kata Kabid Kesiapsiagaan Bencana dan Logistik BPBD Tuban, Syaefudin, kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (2/7/2016).

Sehingga Satuan Tugas (Satgas) penanggulangan bencana ditingkat desa, dapat memberikan peringatan dini kepada masyarakat khususnya Dusun Sarirejo, Desa Rahayu yang paling terdampak flare Pad A.

Rekomendasi selanjutnya perlu adanya peningkatan kapasitas Satgas, penanggulangan bencana di tingkat desa dan kecamatan. Tujuannya mampu mengarahkan masyarakat untuk mengurangi resiko bencana.

“Selama ini Satgas tersebut belum terbentuk,” imbuhnya.

Pihak JOB P-PEJ juga harus meningkatkan komunikasi dengan aparatur Desa Rahayu. Sehingga dalam kondisi keadaan darurat, pihak desa sudah dapat bertindak untuk mengarahkan warganya. Apakah harus di evakuasi ke titik aman atau tidak.

Baca Juga :   Warga Pemilik Lahan Kilang Tuban Minta Perlindungan Komnas HAM

“Insiden membesarnya flare Pad A kemarin perangkat desa sempat kebingungan mengamankan warganya,” tambahnya.

BPBD juga menyarankan perlunya sosialisasi, dan pelatihan warga bersama Satgas bencana tingkat desa untuk penanganan darurat. Serupa Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi korban bencana gas H2S. Selama ini pelatihan hanya fokus, pada langkah apa yang harus dilakukan warga ketika sirine Pad A berbunyi.

Terpisah, hingga berita ini ditulis Suarabanyuurip.com, masih berusaha menghubungi Field Admin Superintendent JOB P-PEJ, Akbar Pradima. Pesan singkat yang dikirimkan melalui WhatsApp sejak pukul 08:20 WIB belum dibalas.

Diketahui, membesarnya flare terjadi tanggal 29 Juni 2016 sekitar pukul 08:30 WIB, dan kembali normal pukul 11:00 WIB. Dalam kurun waktu tersebut pihak operator fokus pada pengamanan flare, sehingga tidak langsung mematikan gas buang.

Sebab apabila saluran gas buang langsung dimatikan, secara otomatis gas H2S muncul. Kondisi ini yang tidak diinginkan JOB P-PEJ, sebab akan banyak resiko ketika gas H2S menyebar.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Pipa Minyak Banyuurip-Mudi Diawasi Ketat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *