Minta Simulasi Ulang Kegagalan Teknologi

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Pasca insiden membesarnya flare di Tapak Sumur (Pad) A Mudi pada tanggal 29 Juli 2016. Pemerintah Desa (Pemdes) Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, meminta operator Minyak dan Gas Bumi (Migas) Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ) untuk mengulangi kembali simulasi kegagalan teknologi industri. Penyebabnya masyarakat masih kebingungan langkah apa yang harus dilakukan, ketika terjadi insiden flare membesar maupun hal serupa lainnya.

“Kami sepakat apabila JOB P-PEJ melakukan simulasi ulang,” kata Kepala Desa (Kades) Rahayu, Sukisno, kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (2/7/2016).

Kesepakatan tersebut menjadi komitmen seluruh perangkat desa, pasca adanya beberapa rekomendasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban kepada operator Migas Blok Tuban.

Dia menilai, simulasi kegagalan teknologi yang dilakukan sejak tahun 2014 silam, belum optimal. Terbukti warga masih panik, ketika sirine Pad A berbunyi sebagai tanda munculnya gas H2S (Hidrogen Sulfida).

“Meskipun demikian kemampuan warga untuk mengetahui tanda kegagalan industri sudah ada,” sambung Sukisno.

Baca Juga :   Proyek EPC 3 Tunggu Ijin Dirjen Kelautan

Salah satu rekomendasi dari BPBD yang disepakati Pemdes Rahayu diantaranya, sosialisasi dan pelatihan warga bersama Satgas bencana tingkat desa untuk penanganan darurat. Serupa Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi korban bencana gas H2S. 

“Selain pelatihan ulang, JOB P-PEJ harus segera mencairkan kompensasi tahun ini yang belum dibayarkan,” tambahnya.

Hingga berita ini ditulis Suarabanyuurip.com, masih berusaha menghubungi Field Admin Superintendent JOB P-PEJ, Akbar Pradima. Pesan singkat yang dikirimkan melalui WhatsApp sejak pukul 08:20 WIB belum dibalas.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *