SuaraBanyuurip.com – D Suko Nugroho
Bojonegoro – Hari pertama masuk sekolah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak disambut suka cita oleh semua wali murid dan peserta didik baru, Senin (18/7/2016). Mereka ada yang tak bisa mengikuti upacara dan serah terima anak-anaknya kepada pihak sekolah karena terlambat hanya beberapa menit sampai di sekolah.
Peristiwa tersebut terjadi di SMA Negeri 1 Padangan. Akibat kebijakan sekolah di wilayah barat Bojonegoro itu wali murid dan peserta didik baru harus menunggu di pinggir jalan Raya Padangan – Ngawi karena pintu gerbang digembok.Â
“Tidak boleh masuk. Tunggu sampai upacara selesai,” tegas salah satu guru kepada wali murid yang memohon ingin masuk.
Kebijakan SMA Negeri 1 Padangan ini bertolak belakang dengan instruksi Bupati Bojonegoro Suyoto agar para orang tua mendampingi dan menyaksikan serah terima anak-anaknya kepada sekolah pada hari pertama masuk sekolah.
Kondisi ini pun mengundang kekecewan para orang tua siswa yang tidak diperbolehkan masuk karena terlambat. Sebab hari ini merupakan memomentum penting bagi mereka untuk mengantarkan dan menyerah terimakan anak-anaknya kepada pihak sekolah.
“Ya jelas kecewa, Mas. Hari ini kan pertama masuk sekolah. Seharusnya ada toleransi dari pihak sekolah bagi siswa baru dan orang tua yang ingin mengantarkan anaknya,” timpal salah satu wali murid yang minta identitasnya tak disebutkan.
Wanita paro baya asal Dusun Jalakan, Desa Padangan itu mengaku baru terlambat lima menit sampai di sekolah bersama anaknya. Namun gerbang pintu masuk telah dikunci oleh salah satu guru. Sementara upacara di SMA Negeri 1 Padangan sendiri dimulai lebih pagi dari biasanya yakni pukul 06.30 WIB.
“Saya tadi sudah berupaya berangkat pagi. Tapi sampai sini masih telat juga,” ucapnya yang mengaku naik sepada pancal ke SMA Negeri 1 Padangan.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, Hanafi menyatakan, memberikan wewenang penuh kepada masing-masing sekolah untuk menerapkan kebijakan pada hari pertama masuk sekolah.Â
“Terserah sekolah masing-masing tentang teknis bagamana supaya warga sekolah berperilaku disiplin,” kata Hanafi dikonfirmasi melalui pesan pendek.
Akibat kebijakan ini banyak siswa dan wali murid  yang menunggu di depan gerbang pintu masuk sekolah. Kondisi ini membuat arus lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Padangan tersendat. Sebab kendaraan pelajar maupun orang tua terparkir di sepanjang jalan.   Â
Meski demikian upacara yang dipimpin Camat Padangan, Farid Naqib berlangsung khidmat. Dalam upacara itu dilakukan serahterima siswa secara simbolis dari wali murid kepada pihak sekolah.
Dari pantauan, kebijakan tidak diperbolehkannya orang tua dan murid ikut upacara karena terlambat ini hanya diterapkan di SMA Negeri 1 Padangan. Sebab sekolah lainnya seperti sekolah dasar (SD), SMP, Madrasah Aliyah Negeri (MAN), dan SMA PGRI di wilayah setempat tidak ada menerapkan kebijakan seperti itu.(suko)