Sebagian Massa Bertahan di Pad B

ibu-ibu bertahan

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Meskipun pihak operator Lapangan Mudi, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ) tidak bersedia berdiskusi di Balai Desa Rahayu, namun sebagian massa Gerakan Rahayu Kompensasi Bayar (Gerah Kobar), Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tetap memilih bertahan di Tapak Sumur (Pad) B. Pilihan tersebut sebagai bukti bahwasanya warga Rahayu serius mendesak supaya kompensasi selama 7 bulan segera dibayar.

“Kami akan bertahan bahkan sampai malam sekalipun,” kata Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Rahayu, Kamsiadi, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (21/7/2016).

Selama 7 bulan terakhir, warga sudah bersabar menunggu janji demi janji dari operator. Tetapi hingga pertengahan bulan ketujuh, malah berhembus isu bahwa kompensasi warga terdampak akan dihapus.

Informasi ini yang memicu warga bersatu untuk menuntut hak terdampak industri Minyak dan Gas Bumi (Migas), dan membentuk forum Gerah Kobar.

Sebelum ada kejelasan dari pihak operator soal kompensasi, ratusan warga akan tetap mengepung Pad B. Bahkan pengepungan akan berlanjut besok, hingga hak warga diberikan.

Baca Juga :   Pertamina Bor Sumur Migas di Lamongan

“Pihak operator berjanji akan menyosialisasikan hasil riset dampak flare pekan depan,” imbuhnya.

Meskipun demikian, warga Rahayu tampaknya sudah tidak percaya dengan statmen operator. Sehingga sesuai keinginan forum Gerah Kobar, gerbang Pad B akan tetap diblokir hingga nanti malam.

“Kondisi selanjutnya menyesuaikan hasil forum,” tambahnya.

Sebelumnya, Field Admin Superintendent JOB P-PEJ, Akbar Pradima, meminta warga untuk bersabar soal pencairan kompensasi. Sebab Pemerintah pusat sudah mengindikasikan adanya pencairan dana kompensasi yang tidak sesuai dengan dampak flare.

“Tahun ini Pemerintah pusat meminta adanya pengkajikan pemberian kompensasi,” sambung Akbar.

Sehingga cair tidaknya kompensasi, harus menunggu hasil riset lembaga independen dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

Diketahui, JOB P-PEJ sebenarnya sudah melalukan kajian riset dampak flare sejak tahun 2014. Sebab sejak dua tahun terakhir jumlah gas buang menurun dari 20 ribu  Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD(gas) atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari (gas), sekarang ini‎ tinggal 3 ribu MMSCFD. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   EMCL Gunakan Permendagri No.4/2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *