Warga Katur Selenggarakan Sedekah Bumi

Warga katur nyadran

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro – Sedekah bumi atau nyadran masih menjadi tradisi yang dipertahankan oleh warga Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Peninggalan leluhur itu tetap lestari meski ditengah geliat industri minyak dan gas bumi (Migas) Blok Cepu maupun proyek Gas Unitisasi Lapangan Jambaran – Tiung Biru (J-TB) yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.

Seperti sedekah bumi yang dilaksanakan warga di Sendang Lo, Desa Katur, Kecamatan Gayam, tepatnya di Dusun Ngaglik, Kamis (21/7/2016). Dalam kegiatan tahunan itu warga berbondong-bondong membawa tumpeng di sendang.

Mereka kemudian melakukan ritual dengan membaca doa-doa yang dipandu oleh sesepuh atau orang yang dituakan di desa setempat. Setelah itu warga beramai-ramai memakan tumpeng secara bersama-sama.

“Ini sebagai bentuk puji syukur atas sumber air Sendang Lo yang tidak pernah habis atau kering meski pada musim kemarau,” kata Pariman, warga Dusun Ngaglik, Desa Katur kepada Suarabanyuurip.com di sela-sela mengikuti prosesi sedekah bumi.

Pada sedekah bumi yang dilaksanakan pada setiap Kamis Pahing ini warga juga mendapat suguhan hiburan Wayang Tengul. “Ini hiburan wajib yang harus dilaksanakan, dan tidak boleh di ditinggalkan atau dilewatkan,” tegas warga berusia 80 tahun lebih tersebut.

Baca Juga :   LPG 3 Kg di Lamongan Rp17 ribu

Bagi warga di Desa Katur, sedekah bumi ini merupakan budaya warisan dari nenek moyang yang tak bisa ditinggalkan dan harus dijalankan seperti yang dilaksanakan oleh para leluhur desa setempat.

“Kami tidak berani meninggalkannya, maupun mengganti hiburan, dan harinya. Jika dilanggar maka akan ada banyak halangan. Pernah hiburannya diganti tayub, dan harinya di ganti Kamis Wage. Mendadak tanpa dinyana warga muncul ribuhan ulat mengepung lokasi Sendang, dan hujan lebat disertai angin kencang,” ungkapnya.

Mantan perangkat Desa Katur tersebut menceritakan singkat asal muasal keberadaan Sendang (Sumur) Lo. Bahwa dulu Sumur Lo sebagai tempat pengungsian warga megambil air. Selain pengungsian dari warga desa sekitar, utamanya adalah warga Bonturi, dan Bangklen.

“Di sebutnya Sumur Lo karena kala itu ada pohon Lo yang besar, dan sumber airnya disaat musim hujan maupun kemarau tidak pernah berubah. Artinya airnya tetap tidak bertambah maupun kurang,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa Katur, Juari, mengaku, senang melihat warga rukun dan guyup pada acara nyadranan ini. Selain itu, sebagai generasi penerus warisan leluhur ini tetap dilakukan sebagai bentuk menguri-uri agar tidak punah ditelan perkembangan zaman. Meski dalam kondisi disekitarnya terdapat proyek Migas.

Baca Juga :   Truk Tangki Pertamina EP Dihadang Warga

“Kegiatan nyadran ini sebelumnya kami musyawarahkan dengan perangkat desa beserta warga untuk berembuk dalam menentukan waktu maupun dana sebagai biaya prosesinya,” sambung Juari. (sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *