SuaraBanyuurip.com – D Suko Nugroho
Bojonegoro – Pertamina tetap berkomitmen membantu pemerintah untuk mewujudkan ketahanan energi dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meskipun sekarang ini tantangan paling besar yang dihadapi Pertamina terutama di sektor hulu migas adalah masalah harga minyak Indonesia (ICP) telah turun hingga 69% dalam 24 bulan terakhir dikarenakan permintaan minyak dunia lebih rendah dari produksi.
“Selain itu juga rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Di Januari 2016 lalu rupiah kita masih Rp12 ribu per dollar, dan sekarang sudah di atas 13 ribu. Ini juga tentunya mempunyai impact kepada aktifitas Pertamina,” kata Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam saat berada di Bojonegoro, Jum’at (22/7/2016).
Sedangkan masalah ICP, lanjut dia, berdasarkan sejarahnya dulu sebelum Januari 2015 atau tahun 2014, antara ICP dengan brent harganya relatif hampir sama. Tapi sekarang ini ICP di bawah harga brent bahkan sampai USD 5-6.
“Ini untuk aktifitas kita di dalam negeri juga cukup memberatkan. Kalau ICP rendah, secara korporate Pertamina kurang diuntungkan,” ujar Alam panggilan akrab Syamsu Alam.
Menurut dia, harga minyak adalah sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Tapi jika ICP jauh dengan harga brent menjadi perhatian khusus Pertamina.
“Alhamdulillah sudah direspon oleh Dirjen Migas. Kemarin saya baca bahwa sudah disadari ICP kita sekarang ini tidak terlalu pas. Mudah-mudahanan akan disesuaikan ke brent sehingga membantu kegiatan kita di hulu,” jelas Alam.
Selain itu masalah yang dihadapi sekarang ini antara produksi dan supplay tidak seimbang. Artinya untuk harga minyak di angka USD 50 per barel hingga di bawah USD 60 per barel akan bertahan lama.
“Sehingga diperlukan strategi agar bagaimana membuat semua aktifitas efektif, dan efisien,” tegasnya.
Meski demikan Pertamina mengaku tetap berkomitmen melakukan eksplorasi dan mencari cadangan minyak untuk kemudian diproduksi sehingga dapat membantu pemerintah mencukupi kebutuhan energi dalam negeri.
Sebab sekarang ini kebutuhan minyak tidak sebanding dengan produksi yang dihasilkan. Di mana kebutuhan nasional kisaran 1,4 juta barel per hari (bph), sedangkan produksinya 830 ribu bph.
“Padahal dari produksi nasional itu salahsatunya banyak disumbang dari Lapangan Baanyuurip. Kalau tidak ada Banyuurip produksi nasional paling sekitar 700 an ribu barel per hari,” tutur Alam.
Perlu disadari pula jika produksi pucak Banyuurip tidak bisa berlangsung lama. Diperkirakan hanya sampai lima tahun. Sehingga Pertamina melakukan ekspansi keluar negeri agar dapat melakukan kerjasama dan memproduksi minyak untuk kemudian dibawa ke Indonesia.
Saat ini ada tiga asset Pertamina di luar negeri. Yakni di Iraq sebagai partner dengan operatornya adalah ExxonMobil tapi Pertamina memilik 10 persen interest. Kemudian di Norwegia Pertamina juga sebagai partner. Sedangkan di Aljazahir Pertamina sebagai operator.
“Karena kita sangat komit membantu pemerintah untuk mewujudkan ketahanan energi dan membantu mempertahankan NKRI,” tandasnya.
Untuk membantu mempertahankan NKRI yang dilakukan Pertamina adalah dengan semakin aktif melakukan aktifitas-aktifitas di daerah perbatasan, salah satunya mengembangkan Blok Natuna. Di tempat itu Pertamina membangun tanki-tanki timbun.
“Ini sebagai tanda kalau ada aktifitas kita di sana,” tegas Alam.(suko)