Harga Minyak Rendah Pertamina – Exxon Tetap Untung

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro – Jungkir baliknya harga minyak dunia dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini tidak berpengaruh terhadap bisnis hulu migas yang dilaksanakan Pertamina maupun ExxonMobil di Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, yang terletak di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Harga minyak dari Lapangan Banyuurip menggunakan ICP Arjuna minus USD 05 per barel. 

“Sehingga secara keekonomian untuk harga minyak di sini tidak ada masalah. Kita dari hulu masih dapat untunglah,” kata Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam saat mengunjungi Lapangan Banyuurip, Jumat (22/7/2016) kemarin.

Untuk biaya direct cost (biaya langsung) produksi di Lapangan Banyuurip hanya USD 5, dan operating cost USD 6. Sehingga jika rata-rata harga minyak (ICP) USD40 per barel masih ada keuntungan yang diperoleh Pertamina maupun ExxonMobil.

Margin-nya masih cukup ekonomislah untuk kita produksikan,” ucap Alam di damping Direktur Utama Pertamina Eksplorasi, Produksi Cepu, Adriansyah dan President EMCL Indonesia, Daniel L Wieczynski.

Baca Juga :   Optimalisasi Gas di Era Transisi untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

Alam mengakui, melakukan produksi besar di tengah anjloknya harga minyak sekarang ini sebuah pilihan yang sulit. Namun cara ini jauh lebih efisien ketimbang impor. Sebab jika membeli minyak dari luar tentu harganya akan mengikuti harga pasar di luar.

“Memang dilema. Kalau dari segi up-stream barangkali, kita bilang bahawa harga minyak rendah ngapain kita memproduksi banyak-banyak. Tapi kalau kita tidak memproduksi, artinya kita harus impor. Kalau kita impor harganya adalah harga market di luar, entah itu brent atau apa lah. Yang pasti harganya lebih tinggi dibandingkan kita memproduksi sendiri,” kata Alam, menjelaskan.

Karena itu, baik Pertamina maupun ExxonMobil mengaku siap melakukan produksi Lapangan Banyuurip sampai di atas 200 ribu barel per hari (bph). Hanya saja untuk melakukan produksi sebanyak itu harus mendapat persetujuan dari pemerintah karena sesuai rencana pengembangan (plan of development/POD) hanya 165 ribu bph selama satu tahun.

“Kita sanggup untuk melakukan itu. Hanya saja call-nya di pemerintah. Saat ini kita produksinya 185 ribu, karena kita mengejar kemarin produksinya masih di bawah 165 ribu,” tegas Alam.

Baca Juga :   PEPC Ingatkan Masyarakat Waspada Penipuan Naker J-TB

Untuk melakukan produksi di atas 200 ribu bph, menurut Alam, tidak perlu mengubah PoD. Alasannya, fasilitas pemrosesan yang digunakan sekarang ini bisa sampai di atas 200 ribu bph.

“Kapasitasnya memang sampai 185 ribu tapi masih bisa kita up grade dan maksimalkan hingga di atas 200 ribu. Pada prinsipnya kita siap meningkatkan produksi, tergantung SKK Migas dan Kementerian ESDM,” pungkas Alam.

Sebagaimana diketahui, baik Pertamina maupun ExxonMobil melalui anak perusahaannya sama-sama memiliki 45 persen saham di Blok Cepu. Sedangkan 10 persen sisanya dimiliki Badan Kerja Sama (BKS) yang tergabung dalam Participating Interest (PI).(suko) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *