SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Pemerintah Desa (Pemdes) Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, selaku penanggung jawab Gerakan Rahayu Kompensasi Bayar (Gerah Kobar), terpaksa membubarkan paksa ratusan massa yang masih bertahan di Tapak Sumur (Pad B) Lapangan Mudi. Pembubaran tersebut lantaran sudah tidak ada kejelasan atau deadlock dari operator Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ).
“Daripada membuang energi tanpa ada hasil sebaiknya istirahat dulu di rumah,” kata Kepala Desa (Kades) Rahayu, Sukisno, kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (25/7/2016).
Pembubaran aksi kedua ini atas kesepakatan semua Koordinator Lapangan (Korlap), orator, dan ketua Rukun Tetangga (RT). Pertimbangannya kesehatan massa harus dijaga, sebab aksi ini masih terus berlanjut.
Pihaknya kasihan melihat sebagian massa yang terdiri dari ibu-ibu sudah letih. Terlebih ada yang nekat membawa buah hatinya, untuk menyaksikan tuntutan warga soal kompensasi 7 bulan terakhir yang tidak diberikan operator.
“Jangan terlalu memaksa kalau JOB P-PEJ masih bersikap kurang pro aktif seperti ini,” imbuhnya.
Meskipun Kades sudah menginstruksikan massa untuk bubar, namun masih banyak warga Rahayu yang bertahan. Bagi sebagian massa perjuangan harus dilanjutkan, jangan sampai pembubaran ini, warga dianggap lemah oleh pihak operator.
Pantauan di lapangan, aksi pembubaran massa secara paksa ini sempat mendapat respon keras dari massa. Tapi setelah Pemdes mengajak aksi lanjutan pada besok hari Selasa (26/7), warga sedikit lega dan secara berangsur meninggalkan Pad B.
Diketahui, dalam perjalanan warga meninggalkan Pad B, pihak Polsek Soko, Muspika Soko, dan perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban terus mengawal warga. Tujuannya supaya tidak ada provokatif yang merugikan JOB P-PEJ maupun warga Rahayu.(Aim)