SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Masuknya Eddy Fritz Domingus sebagai Direktur Utama PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), tampaknya, belum membawa perubahan signifikan terhadap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur. Sampai saat ini belum ada perkembangan (progress) signifikan dari semua bisnis yang dijalankan perusahaan plat merah tersebut.
“Dirut yang baru juga masih melanjutkan program sebelumnya, masih belum ada hasil karena proses ya,†ujar Kepala Bagian Perekonomian Bojonegoro, Helmi Elisabeth, Sabtu (6/8/2016).
Kondisi itu dinilai wajar karena butuh penyesuaian. Terlebih masih ada pekerjaan di tahun 2015 yang butuh diselesaikan. Sehingga untuk tahun 2016 ini belum bisa maksimal.
“Kalau kilang mini, PT BBS itu diajak oleh investor. Jadi ya lihat dulu, investornya seperti apa,” imbuhnya.
Meski Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memberikan jatah alokasi minyak mentah, namun hal itu hanya melalui media saja. Sedangkan sampai hari ini belum ada kejelasan dari pemerintah pusat mengenai hal itu.
“Belum ada surat resmi dari Kementerian ESDM, jadi ya untuk kilang mini belum ada persiapan apa-apa,” tukasnya.
Karena alas an itu pula tim ekonomi dari Pemkab Bojonegoro belum ada rencana untuk menambahkan modal kepada PT BBS. Mengingat belum ada perkembangan signifikan terhadap kinerja BBS sampai sekarang.
Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro meminta BBS untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Semua BUMD ya, termasuk  BBS harus bisa meningkatkan PAD,” tegas Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Sukur Prianto dikonfirmasi terpisah.
Selama ini BUMD dinilai belum memberikan kontribusi secara maksimal untuk memberikan PAD kepada pemerintah.
“Kami akan mengevaluasi dan mendorong BUMD untuk meningkatkan PAD,” pungkasnya.(rien)