SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban- Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL), dalam sosialisasi zona keamanan dan keselamatan fasilitas Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang, meminta nelayan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memeperhatikan jarak terhadap FSO.
Dalam kondisi apapun jarak perahu nelayan Tuban, terhadap FSO minimal 500 meter. Mengingat menara tambat FSO Gagak Rimang mampu bermanuver 360 derajat kapanpun.
“Inti sosialisasi ini nelayan diharapkan memahami resiko ketika berada dekat dengan FSO,†kata Juru Bicara dan Humas EMCL, Rexi Mawardijaya, kepada SuaraBanyuurip.com, ketika ditemui usai sosialisasi di Balai Desa Panyuran, Kecamatan Palang, Rabu (10/8/2016).
Tingginya resiko keamanan dan keselamatan nelayan menjadi perhatian EMCL untuk terus melakukan edukasi dengan berbagai metode. Karena aset nasional yang mengapung di laut utara Tuban, harus dijaga oleh semua pihak. Baik dari resiko kebakaran, maupun laka yang menyebabkan kerugian pada nelayan.
Sehingga sejak dua tahun terakhir operator Lapangan Banyuurip ini setidaknya telah melakukan sosialisasi ketiga kali. Pertama di Desa Palang, Kecamatan Palang, kemudian pada tanggal 3 Juni 2016 di Kecamatan Kota Tuban, kemudian terakhir di Desa Panyuran, Palang.
“Selain sosialisasi melalui tatap muka, setiap nelayan juga menerima kaos yang bertuliskan himbauan untuk mematuhi jarak aman,†imbuhnya.
Berbicara keefektifan dari sosialisasi selama ini, EMCL cukup optimis kecelakaan maupun tersangkutnya jaring nelayan dapat diminimalisir. Terbukti selama ini belum ada laporan dari pengurus Himpunan Nelayan Nasional Indonesia (HNSI) Tuban, soal kerugian nelayan akibat aktifitas FSO.
Sementara, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Tuban, Sunarto, mengapresiasi langkah dari EMCL menghimbau nelayan untuk tetap berhati-hati. Meskipun pusat operasi perusahaan ada di Kabupaten Bojonegoro, perhatian terhadap lingkungan stasiun pipa tetap diutamakan.
“Kami optimis selama pengurus HNSI maupun Rukun Nelayan (RN) bersinergi tidak akan terjadi masalah,†sambungnya.
Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, pihaknya meminta EMCL cepat tanggap ketika pengurus HNSI maupun RN meminta sosialisasi serupa. Sebab belum semuanya nelayan Tuban berpendidikan cukup, rata-rata hanya fokus pada hasil tangkapan.
Diketahui, tidak membutuhkan waktu tiga jam sosialisasi berakhir. Tidak ada satupun pertanyaan dari nelayan Panyuran. Hadir dalam kesempatan tersebut, mulai perwakilan SKK Migas Jabanusa, Arief Abadil Gulam, EMCL, HNSI, RN Palang, dan 50 nelayan Panyuran.
FSO Gagak Rimang sebagai tempat penyimpanan sementara minyak mentah saat ini berada di 24 kilometer perairan utara (Kecamatan Palang Kabupaten Tuban). FSO itu ditambatkan pada menara mooring tower (menara tambat) yang dapat berputar 360 derajat untuk menyesuaikan arah angin.
Fasilitas tersebut mampu menyimpan minyak mentah sebesar 1,7 juta barel. Dipersiapkan untuk menunjang produksi puncak Lapangan Banyuurip sebesar 165 ribu barel per hari (bph). (aim)