SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – PT Gelora Trisusila Semesta (GTS) selaku operator kompetisi laga Indonesia Soccer Championship (ISC) B 2016, hingga berakhirnya seluruh kompetisi belum melunasi biaya operasional kepada manajemen klub Persatu Tuban, Jawa Timur. Dari total anggaran Rp400 juta, Persatu baru menerima Rp285 juta.
“Kami harapkan PT GTS secepatnya melunasi kekurangan itu, sebab klub masih menanggung dana pinjaman cukup banyak,†kata Manajer klub Persatu Tuban, Fahmi Fikroni, kepada SuaraBanyuurip.com.
Sejak mengkuti kompetisi ISC B, Persatu tidak memperoleh suntikan dana APBD lagi. Sehingga satu-satunya jalan untuk menutup biaya operasional harus menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang tidak mengikat.
Besarnya biaya setiap kompetisi, membuat manajemen harus berjibaku menacari dana segar untuk menutup devisit. Meskipun telah menjalin teken dengan sponsor, belum semuanya mentransfer nominal sesuai kontrak.
Tercatat pasca mengikuti kompetisi Liga Nusantara tahun 2014 lalu, maupun ISC B 2016, kondisi keuangan klub devisit Rp 1,3 miliar. Kekurangan tersebut akibat tidak seimbanganya biaya masuk, dan operasional yang dikeluarkan. Untuk mengikuti Liga Nusantara saja, manajemen harus menggelontorkan biaya Rp 3,8 miliar.
Dana tersebut rinciannya Rp1,7 miliar lebih dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Rp250 Juta lebih dari PT. Semen Indonesia, dan Rp 1 miliar dari Bupati. Total dana yang berhasil dikumpulkan saat itu sekira Rp3,1 miliar.
“Meskipun Persatu menjuarai Liga Nusantara, manajemen masih menanggung dana pinjaman sebesar Rp700 juta dari total keseluruhan anggaran,†imbuhnya.
Sedangkan selama mengikuti kompetisi ISC B, manajemen harus merogoh kocek sebesar Rp 1,65 miliar. Jumlah tersebut berasal dari PT Semen Indonesia (Persero) berjanji membantu Rp 250 juta tetapi hingga kini belum ditransfer.
PT Antara Lintas Samudra (ALS) mensuport Rp 100 juta, dan CV. Tanah Mas Grup memberikan bantuan dana sebesar Rp 50 juta. Sedangkan anggaran PT GTS, masih tersisa Rp 115 juta yang belum ditranfer.
Apabila PT Semen Indonesia (Persero) dan PT GTS sudah mentransfer, sedikitnya beban manajemen berkurang. Tercatat total dana yang baru masuk Rp 435 juta, sisanya sebesar 630 juta masih dana pinjaman.
“Kami akui sulit menjalin kerja sama dengan indutri di Tuban, baik perusahaan tambang maupun yang bergerak di Minyak dan Gas Bumi (Migas),†jelasnya
Jajaran manajemen meminta maaf apabila dalam kompetisi ISC B hanya duduk di posisi 4 klasemen grup 6. Sebab lawan tanding satu grup dengan Persatu bukan lawan yang enteng. Rata-rata tim cukup kuat, dan sudah berpengalaman di liga ISL maupun devisi utama. Sehingga punggawa Persatu masih kalah jam terbang saja.
“Saya siap diganti apabila ada pihak yang kurang puas dengan kinerja selama ini,†pungkasnya. (Aim)