Pengusaha Transporter Sambut Gembira

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro – Kabar gembira bagi pengusaha lokal Bojonegoro, Jawa Timur, yang bergerak di bidang jasa transporter kilang mini PT Tri Wahana Universal (TWU). Dalam waktu dekat ini, mereka akan kembali mengangkut hasil produksi bahan bakar industri dari kilang mini di Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, itu setelah tujuh bulan berhenti beroperasi.

Kepastian ini diperoleh setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang masih dijabat Sudirman Said memutuskan memberikan alokasi dan patokan harga minyak mentah dari Lapangan Banyuurip.

Dikabarkan, TWU memperoleh alokasi minyak mentah sebanyak 6 ribu barel per hari (bph) dengan mengacu harga jual di fasilitas penyimpanan (Floating Production, Storage and Offloading/FPSO) Gagak Rimang yakni harga minyak Indonesia (ICP) Arjuna minus US$ 0,5 per barel.

Alokasi yang diberikan kepada TWU ini lebih sedkit dibanding sebelum pasokan dihentikan pada pertengahan Januari 2016 lalu yakni sebanyak 16.000 bph. Selain itu harga yang diberikan pemerintah sekarang ini lebih tinggi dari sebelumnya yakni  untuk tahun 2009 minus USD 6.70 per barel, tahun 2013 minus USD 5.31 per barel, tahun 2014 minus USD 4.76 per barel, dan tahun 2015 minus USD3.50.

Ada empat perusahaan jasa transporter yang selama ini terlibat di kilang mini milik anak usaha Group Saratoga tersebut. Yakni PT.Artha Surya Jaya (ASJ), PT.Bahana Multi Tekhnik (BMT), PT.Java Multi Multamindo (JMM), dan PT.Sima

Baca Juga :   Fly Over EPC 5 Terganjal Ijin KAI

“Iya kami sudah dengar kabar itu. Tentunya kami senang, karena ini yang ditunggu-tunggu pengusaha jasa transporter dan trading ,” kata Direktur BMT, Budi Utomo kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (13/8/2016).

Dengan adanya kesepakatan harga ini, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) akan segera mengalirkan minyak Banyuurip ke kilang TWU pada akhir Agustus ini. 

“Secara prinsip kami dan TWU sudah sepakat mengenai harga penjualan minyak sesuai Keputusan Menteri ESDM yaitu mengacu harga jual di FPSO Gagak Rimang atau harga minyak Indonesia (ICP) Arjuna minus US$ 0,5 per barel,” kata Direktur Utama PEPC Adriansyah seperti dilansir katadata.com.

Namun Adriansyah mengungkapkan, harga tersebut masih bisa berubah. Apalagi jika ada aturan baru mengenai harga penjualan minyak Blok Cepu ke kilang TWU, maka harga bisa ditinjau ulang.  Selain itu, Kementerian ESDM sedang menyusun aturan mengenai kilang mini yang salah satunya mengatur mengenai harga.

Sementara itu, Manajer Humas TWU Wendra masih berusaha dikonfirmasi. Beberapa kali telepon genggamnya dihubungi terdengar nada sambung namun tidak di angkat.

Sebagaimana diketahui, Kilang TWU berhenti beroperasi sejak pertengahan Januari lalu karena pasokan minyak mentah dari Banyuurip dihentikan. Kontrak pembelian minyak TWU di Lapangan Banyuurip selama 10 tahun terhitung mulai 2009 sampai 2019, dan terdapat SK Menteri ESDM.

Baca Juga :   PDSI Sukses Kembangkan Offshore Rig, Ini Keunggulannya

Untuk lima tahun pertama dilakukan TWU dengan ExxonMobil, dan lima tahun ke dua dengan PEPC. Nah, saat menginjak kontrak lima tahun kedua inilah pemerintah menghentikan pasokan minyak kepada TWU.

Sebelum kontrak berakhir, TWU mendapatkan harga lebih murah karena minyak yang dihasilkan Blok Cepu tidak bisa dipasok ke tempat lain gara-gara fasilitas FPSO belum terbangun. Tapi setelah fasilitas terbangun, seharusnya harga untuk kontrak baru tidak lagi sama.

Masalah harga ini juga mendapat sorotan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hasil awal audit BPK menemukan potensi penerimaan negara yang hilang sebesar US$ 3,6 juta atau sekitar Rp 47 miliar dari proses penjualan minyak Blok Cepu kepada TWU.

Potensi kerugian itu terjadi dalam periodisasi penjualan minyak April sampai Desember 2015. Penyebabnya adalah harga jual minyak yang ditetapkan pemerintah di bawah harga acuan minyak Indonesia atau ICP.

Tapi, belakangan, BPK menyatakan, tidak ada kerugian negara dalam penjualan minyak mentah dari Blok Cepu ke Kilang TWU. Bahkan, BPK merekomendasikan agar pemerintah memberikan harga minyak yang lebih murah untuk mendukung pengembangan kilang mini.(suko) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *