Flare dan Lampu Diindikasi Pengaruhi Produksi

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro -  Dampak aktifitas flaring dan keberadaan lampu penerangan di sekitar area proyek pengeboran minyak Banyuurip, Blok Cepu, terhadap pertanian di Desa Mojodelik Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menarik perhatian Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) untuk melakukan observasi. (baca: Ahli Pertanian : Produksi Turun Bukan Karena Flare)

Alasannya, petani di sana menganggap keberadaan flare dan lampu penerang di sekitar proyek menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas tanaman padi dan jagung.

“Untuk membuktikan kebenaran itu, kami akan melakukan pengamatan dan penelitian lebih lanjut selama tiga bulan ke depan,” kata Kepala Bidang Penelitian LPPM Universitas Bojonegoro, Laily Agustina Rahmawati melalui siaran persnya yang dikirim kepada suarabanyuurip.com, Senin (15/8/2016).

Dosen Fakultas Pertanian Unigoro itu menyebutkan, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, diketahui bahwa rata-rata kerugian yang diderita petani pada panen terakhir berkisar antara 20-30%. Penurunan hasil padi bersifat gradual, artinya padi yang ditanam di lahan yang berada 0-80 meter dari pagar pembatas wilayah proyek atau sekitar 0-70 meter dari lampu penerangan proyek, mengalami penurunan hasil yang sangat signifikan hingga 70%.

Sedang padi yang ditanam pada jarak lebih dari 80 meter dari batas pagar proyek mengalami penurunan sekitar 20- 30 %. Kondisi bulir padi banyak yang kopong, dan sebagian besar bulir yang isi hanya berisi separuh.

Baca Juga :   MCL Perketat Pengamanan Sekitar Sumur

Selain padi, sawah yang ditanami jagung dan kacang hijau juga mengalami gagal panen. Tanaman jagung dan kacang hijau tumbuh tinggi melebihi ukuran normal, dengan daun hijau, lebat dan subur, namun tidak keluar bijinya sama sekali.

“Ini mengindikasikan bahwa kemungkinan besar panas yang berasal dari flare dan lampu penerang berpengaruh secara langsung terhadap metabolisme tanaman padi,” ujar Laily.

Dia mengungkapkan, sebelumnya Tim Peneliti Independen dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (Lesos) Mojokerto telah melakukan penelitian dengan mengambil sampel air dan tanah, kemudian hasil uji laboratorium mereka menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh keberadaan flare dan lampu terhadap kegagalan panen.

“Namun ada faktor lain yang belum diteliti, yaitu pengaruh flare dan lampu penerang secara langsung terhadap keberadaan tanaman itu sendiri,” ucapnya.

Menurut dia,  keberadaan flare dan lampu penerangan mengakibatkan peningkatan suhu lingkungan sehingga tidak sesuai dengan syarat tumbuh tanaman padi. Keberadaan flare dan lampu penerang mengubah suhu lingkungan di sekitar proyek menjadi lebih tinggi dari biasanya.

Padahal, kata dia, suhu merupakan faktor pembatas yang menentukan bisa tidaknya tanaman tumbuh dengan optimal. Padi merupakan jenis tanaman C3, yang tidak adaptif terhadap kondisi panas, dengan suhu optimal untuk tumbuh berkisar antara 24-29°C. Sedangkan suhu di sekitar proyek berkisar antara 35-42 °C.

Baca Juga :   Pertamina Jamin Avtur Penerbangan Haji

“Kondisi tersebut melebihi ambang batas toleransi tanaman padi. Jika tetap ditanam pada kisaran suhu tersebut, maka tanaman padi akan hidup dalam kondisi cekaman suhu tinggi atau panas,” tegasnya.

Hasil observasi lainnya, menurut dia, tanaman memiliki ambang batas terhadap intensitas cahaya yang harus diterima. Intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan rusaknya struktur kloroplas yang membantu proses metabolisme tanaman, sehingga menyebabkan produktifitas tanaman menurun (Salisbury dan Ross, l992).

Hasil observasi ke tiga, pemasangan lampu penerangan di malam hari mengubah periodisasi lama penyinaran (fotoperiode) tanaman Jagung dan Kacang Hijau. Jagung dan Kacang Hijau merupakan jenis tanaman berhari pendek, yaitu tanaman yang hanya dapat berbunga bila panjang hari kurang dari batas waktu kritisnya (11-15 jam).

Akan tetapi keberadaan lampu penerang di sekitar proyek menyebabkan padi tetap mendapatkan cahaya meskipun di malam hari. Sehingga lama penyinaran berlangsung sepanjang hari atau 24 jam.

“Jika tanaman berhari pendek mengalami penyinaran melebihi waktu kritisnya, maka tanaman akan mengalami pertumbuhan vegetatif yang terus menerus sehingga tanaman menjadi gigas atau besar, seperti batang yang semakin tinggi, daun yang semakin panjang, lebar, lebat dan hijau; namun fase pembungaan (generatif) akan dikekang sehingga bunga dan biji tidak dapat terbetuk,” pungkasnya.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Lampu penerangan yang nyala dari pukul 17/sore hari sampai pukul 07/pagi menyebabkan tanaman padi kami produksi menurun sd 50% .